Catatan Akhir Kuliah

Mystery Of The Nile

“Budaya Bullying yang merajalela”

Posted by hafidzi pada 19 Februari 2008

Refleksi HUT KMKM ke 50

“Budaya Bullying yang merajalela”

Genap sudah umur KMKM setengah abad, sebuah bilangan yang cukup tua bagi kita. Sudah banyak pengalaman hidup yang ditempuh oleh KMKM, selama 50 tahun ini beraneka ragam kegiatan aktifitas dan sebagainya sudah dilalui. Akan tetapi ada satu budaya yang penulis rasa dalam tiga tahun terakhir ini yang tidak pernah hilang, bahkan semakin tahun semakin parah, yaitu Bullying.

Setelah bangsa ini dilanda krisis ekonomi, sekarang bangsa ini sedang dilanda krisis remaja, bukan hanya di Indonesia, akan tetapi di Mesir juga. Akan tetapi tidak separah dari arti bullying yang sebenarnya. Karena arti bully itu adalah tindak kekerasan fisik dan mental, dan warisan yang didapat dari sebagian pergaulan di KMKM adalah tindak kekerasan mental.

Menurut Olweus (1993) “Bullying can consist of any action that is used to hurt another child repeatedly and without cause”. Tindakan yang dilakukan dapat berupa fisik, verbal ataupun kejadian siksaan mental ataupun emosi seseorang.

Jika dianalisa lebih lanjut tampaknya fenomena kekerasan pada remaja bukanlah hal yang datang begitu saja, namun terjadi akibat dari sederetan sebab yang tidak kita sadari. Sedikitnya ada tiga faktor penyebab kekerasan pada remaja.

Pertama, faktor pendidikan yang banyak menekankan pada aspek kecerdasan yang terbatas pada kecerdasan matematis logis dan kecerdasan linguistik. Setidaknya ada 8 kecerdasan yang berhasil dieksplorasi oleh Howard Gadner dalam buku Multiple intelligence-nya yaitu kecerdasan matematis logis, linguistik, ruang spasial, natural, interpersonal, intrapersonal, musik, dan kinestetik Beberapa aspek kepribadian seperti kecerdasan interpersonal dan intrapersonal perlu mendapatkan perhatian.

Metode belajar yang mendrill peserta didik dengan berbagai tugas sejatinya menghilangkan jiwa sosial mereka, kehilangan waktu untuk berinteraksi dengan jiwa mereka sendiri, akibatnya ia memilih komunitas geng untuk menghilangkan kejenuhan mereka yang kemudian memaksa orang lain untuk bergabung dengan komunitasnya.

Kedua, faktor lingkungan yang buruk yang diimitasi remaja. Teori mengenai social learning and imitation yang dijelaskan oleh Miller dan Dollard mengungkapkan bagaimana peranan penting dari proses imitasi terhadap perkembangan kepribadian mereka.

Teori ini kemudian dikembangkan yang akhirnya menemukan bahwa subjek-subjek yang dibiarkan mengamati serangkaian respon yang tidak lazim –seperti agresivitas- yang dilakukan oleh orang lain (model) cenderung melakukan hal yang sama jika ditempatkan dalam situasi yang sama. Penelitian ini dibuktikan dengan dengan pengujian anak-anak TK yang diuji satu persatu yang diminta untuk memperhatikan serangkaian perilaku agresif tertentu baik berupa fisik maupun verbal yang dilakukan orang dewasa (model) terhadap boneka mainan besar.


Ketiga, pada pola pendidikan orangtua yang kurang tepat. Pola pendidikan anak menjadi penting peranannya untuk menanamkan visi dalam dirinya, membentuk imunitas dalam jiwanya. Ali bin Abi Thalib mengingatkan untuk serius dalam mendidikan anak sebab mereka akan hidup dalam dunia yang berbeda dengan orangtuanya. Alangkah beratnya tugas mendidik anak, sebab mereka adalah makhluk yang memiliki dunianya sendiri.

Kesalahan pola didik terlihat jelas dari kecenderungan orangtua untuk memaksakan dunianya kepada dunia anak-anak mereka. Tak disangka, ternyata kita selaku orangtua atau calon orangtua ternyata berkontribusi besar dalam membentuk mereka berhati keras. Sehingga menyebabkan anak suka minder terhadap teman-temannya, lebih suka sendiri, suka emosi dan yang lebih parah jika dia sudah sangat tertekan, dia lebih ganas dari pembunuh.

Kerugian kerusakan moral remaja sejatinya menjadi tanggungjawab kolektif dari umat Islam, sebab kerugian ini akan ditanggung bersama, mengingat masa depan ini akan kita serahkan kepada mereka disaat mata kita menjadi rabun karena tua, dan badan kita tidak lagi tegak karena sakit. Oleh sebab itu bangunan solusi yang hendak kita buat adalah solusi integratif yang melibatkan semua pihak yang terkait dengan pembentukan jiwa perubah pada remaja.

Tak diragukan lagi bahwa bullying pada remaja merupakan hasil interaksi antara dirinya dengan lingkungan sosial tempat ia hidup. Sedikit banyaknya dampak negatif dari Bullying ini dapat kita rasakan di KMKM yang tercinta ini, dimana ada sebagian orang yang hidupnya suka berkelompok menindas perorangan, bukan melalui fisik akan tetapi melalui jiwa mental seseorang, pembunuhan karakter pribadi. Akibatnya dia menjadi tidak suka bergaul, tidak banyak bicara, suka minder jika berada dikeramaian dan yang lebih parah lagi dia merasa tertekan sehingga mencoba untuk menghindar. Oleh sebab itu perbaikan sosial merupakan bagian yang tak terpisahkan dari solusi perbaikan remaja. Jangan heran jika kita melihat anak berperilaku aneh, berpakaian tidak lazim, telusuri saja kepada siapa ia mengidentifikasi. Seperti yang dijelaskan di atas, Rasul mengingatkan dalam hadistnya “Seseorang tergantung pada keyakinan temannya”.

Menjadikan ia identik adalah hal wajar dalam perkembangan remaja, itu menjadi hal yang alami dalam proses pembelajarannya, namun akan mencemaskan disaat mereka meniru pribadi yang secara kepribadian tidak mencerminkan dari akhlaqul kariimah. Karena secara sosial fenomena kekerasan dapat mudah diakses oleh remaja, baik berupa tontotan sinetron yang menampilkan adegan kekerasan, game yang banyak menghadirkan permainan kasar dan pelecehan seksual.

Segala kekerasan ini kemudian akan membuat dunia internal mereka terbentuk penuh kekerasan, perilaku mereka menjadi waspada segala hal kecil sekalipun, perasaan mereka merasa tidak aman. Tampaknya fenomena bullying ini merupakan proses defensif terhadap dunia eksternal yang mereka rasa begitu mengancam. Di sisi lain Hurlock menangkap bahwa perilaku agresif remaja merupakan bukti yang umum terjadi akibat dari ketidakmampuan penyesuaian diri remaja terhadap sosialnya.

Adalah Hasan Al-Banna yang menaruh harapan kebangkitan bangsa berada pada pemuda, dan memandang kejatuhan bangsa pun pada pemuda pula.

Stop Bullying

Kejadian bullying ini bisa menimpa siapa saja, yang tidak peka terhadap lingkungannya, sebagian ciri-ciri bullying adalah dengan sengaja berperilaku menyakiti atau menyakitkan orang. Umumnya dilakukan berulang-ulang pada skala waktu tertentu. Sangat sulit menghindar bagi penerima tindakan tersebut. Sangat sulit bagi pelaku untuk belajar perilaku sosial baru. Seseorang yang melakukan bullying memiliki kekuatan yang tidak pada tempatnya terhadap si korban, menyebarkan cerita-cerita tertentu dengan maksud merendahkan korban, dijauhkan dari kelompok, memanggil nama dengan gelar yang jelek, melecehkan dengan tanda-tanda rasis.

Korban akan menjadi anak yang gelisah atau khawatir, lemah dalam akademik, lemah konsentrasinya dan kurang populer serta kurang aman dan nyaman, Memiliki kelemahan pergaulan.Tidak memiliki kepercayaan diri untuk meminta bantuan.Tidak mendapatkan dukungan dari gurunya ataupun teman sebayanya. Menyalahkan diri sendiri dan percaya bahwa hal tersebut merupakan kesalahannya. Sangat putus asa untuk menyesuaikan dengan yang lain, sehingga dia lebih banyak mengurung diri sendiri.

Yang perlu dilakukan adalah saling menghargai terhadap sesama, tidak menganggap rendah orang lain, suka bergaul, berusaha untuk bersikap kuat, percaya diri dan jangan memabalas bullying dengan bullying juga, akan tetapi coba untuk tetep tersenyum, teguh dan tidak menyimpan masalah ini sendiri, tapi cobalah untuk menceritakan ke orang yang lebih dewasa. Ingat, menceritakan bukan berarti mengadu domba.

Terakhir, pembinaan agama terhadap remaja, tak kalah pentingnya. Tidak hanya mengajarkan moral dan akhlak semata, tapi juga mengokohkan bangunan akidah dalam diri mereka. Sehingga remaja bisa berperilaku dan berpikir lebih bijak dalam bergaul. “If we want to have peace in the world, we have to start with the children” (Gandhi).

2 Tanggapan to ““Budaya Bullying yang merajalela””

  1. Nin said

    Terima kasih atas pemaparannya…
    Tidak tahu bagaimana di Mesir, kalau di Indo anak mudanya cenderung anarkis… sedikit2 bentrok, pukul2an, tonjok2an…
    Gak tahu apa sebab musababnya yang pasti.
    Olahraga saja akhirnya ditutup dengan saling hantam… serem….

  2. hariadhi said

    amin.. masih banyak yang menyokong bullying dengan kedok “membina” mental. Padahal justru mental akan rusak kalau dibully.

    ~andai mereka itu sadar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: