Catatan Akhir Kuliah

Mystery Of The Nile

Kelurahan Ketupat

Posted by hafidzi pada 16 Oktober 2007

Lebaran tiba lagi, berlalu sudah sebuah bulan yang mulia dari kurnia Sang Khaliq kepada hamba-Nya. Kalau suatu ketika dahulu, Sayydina Abu Bakar mengalirkan air matanya ketika mengenangkan perginya Ramadhan, kini berapa beratkah kepergian Ramadhan itu bagi kita…? Sedih, ataukah diri ini sedikitpun tidak ada perasaan? Hanya Allah yang mengetahui hati kita yang kadang sok suci ini. Kali ini Lintas Borneo akan berjalan-jalan ke Ibukota Kalimantan Selatan, Banjarmasin, tepatnya di di jantung kota Banjarmasin yaitu Kelurahan Sungai Baru, Kecamatan Banjarmasin Tengah.  Di kelurahan yang cukup padat ini terdapat kawasan yang dikenal dengan kawasan para penjual ketupat. Di kawasan ini, hampir di setiap rumah tergantung kulit ketupat; daun kelapa yang dibuat berbentuk anyaman berbentuk segi empat, yang biasanya diisi dengan beras kemudian didihkan sampai matang. Jumlahnya pun tidak sedikit, bahkan bisa diperkirakan mencapai ratusan hingga ribuan ketupat per-rumah.  Yang unik, para pengrajin ketupat (baik kulitnya saja, atau yang berisikan lontong) di Sungai Baru tidak perlu bersusah payah menjualnya ke pasar umum, melainkan hanya cukup menggantungnya di depan rumah, pelanggan akan datang sendiri untuk membelinya. Umumnya karena jumlah yang sangat banyak, ketupat yang dijual sampai menutup pintu dan jendela rumah pengrajin. Para pelanggannya pun bercorak, dari warung makan yang berkelas sampai penjual keliling yang bercirikan makanan khas banjar, seperti Sate, Soto Banjar, atau Gado-gado.  Kampung Sungai Baru ini sudah tersohor ke berbagai pelosok daerah sebagai kampung pembuat ketupat yang handal, selain tahan lama dan tidak mudah basi, ketupat ini biasanya cocok digunakan untuk makanan apa saja. Usaha mereka biasanya meningkat seminggu sebelum Lebaran, bahkan ada yang kehabisan stok. Padahal hari raya Fitri masih jauh di depan. Kalau berbicara harga, rata-rata semua sama, berkisar dari 600-1000 rupiah per-ketupat. Tergantung besar atau tidak ketupatnya. Akan tetapi, karena kenaikan harga bahan bakar minyak dan harga bahan pokok lainnya, tampaknya sulit bagi para pembuat ketupat dan lontong di Sungai Baru untuk mempertahankan harga lama. Kalaupun nanti ada kenaikan harga, mereka tetap akan mempertahankan kualitas produknya. Sebab dengan mengutamakan kualitas, usaha pembuatan ketupat dan lontong di Sungai Baru tersebut terus berdenyut hingga sekarang. Mari kita memohon kepada Allah agar seluruh amalan kita di bulan Ramadhan diterima. Semoga Allah mengampuni kejelekan dan menerima taubat serta menghapus dosa-dosa kita. Semoga Idul Fitri kali ini bisa menjadi bahan batu loncatan dan renungan untuk lebih maju dari Idul Fitri sebelumnya. Dan akhirnya semoga kita diberikan kesempatan untuk bisa melaksanakan ibadah puasa tahun yang akan datang. Amîn yâ Rabbal ‘âlamÎn. *Penulis adalah keluarga besar Buletin Pahabaran PAPADAAN; berasal dari Banjarbaru, Kalsel

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: