Catatan Akhir Kuliah

Mystery Of The Nile

Lebaran yang Membingungkan

Posted by hafidzi pada 21 Oktober 2006

Anwar Hafidzi*

Tidak terasa setahun sudah berlalu, Ramadhan yang kita harapkan juga akan meninggalkan kita hanya dalam hitungan hari. Hari raya Idul Fitri kini kembali lagi ke hadapan kita, sebuah kemenangan umat islam, bahkan kebahagian yang tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata. Betapa bahagianya dapat berkumpul bersama orang tua, sanak famili dan kerabat lainnya. Tapi keadaan seperti ini agak sedikit berbeda dengan para penuntut ilmu yang jauh dari kampung halaman, perayaan kali ini hanya dapat dirayakan bersama teman-teman.

Ada suatu ciri yang sangat melekat pada masyarakat Muslim di Indonesia terlebih kampung halaman kita saat menyambut lebaran, yaitu tradisi “mudik dan baju baru”. Mungkin inilah, kalau boleh penulis bilang, sebuah “ritual sakral lebaran” bagi sebagian besar masyarakat muslim Indonesia. Sehingga dengan kondisi seperti itu, tiket-tiket transportasi dan toko-toko pakaian menjadi tempat penyerbuan kaum muslimin bila menjelang lebaran.

Memang tidak aneh, akan tetapi bila dikaji secara lebih mendalam dengan meminjam pisau analisis keislaman, tentu kita semua akan beranggapan bahwa tradisi tersebut adalah tradisi yang palsu walaupun sesungguhnya sah-sah saja bila kita melakukannya. Rahasia sesungguhnya yang dapat kita ambil dari tradisi itu adalah perayaan atas kemenangan kaum muslimin yang sangat besar (lebaran), yakni kemenangan dari berbagai ujian baik ujian fisik, mental, dan spritual yang telah ditempa selama puasa di bulan suci Ramadhan. Dari kemenangan tersebut, kita “mudik” yang bisa diartikan dengan “kembali” dengan mengenakan “baju baru” yaitu kesucian atau fitrah yang bersih. Jadi “mudik dengan baju baru” sesungguhnya adalah kita telah kembali dalam pakaian baru yang dipenuhi kesucian dan meninggalkan pakaian kita yang lama, yang penuh dengan noda dan dosa, benci dan kemunafikan.

Kontroversi Awal Lebaran 1427 H.

Biasanya yang menjadi sorotan penting ketika Lebaran, yaitu perbedaan pendapat tentang jatuhnya 1 Syawal atau hari raya Idul Fitri 1427 H. Seperti yang kita lihat sekarang ini, ada dua ormas yang menonjol dalam perbedaan penetapan itu: pertama ormas (organisasi masyarakat) Muhammadiyah dan kedua, ormas Nahdhatul Ulama (NU).

Jika sekarang Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah dalam kalender (almanak) Muhammadiyah menetapkan awal Ramadhan pada hari Minggu (24/9), maka jatuhnya hari raya Idul Fitri pada Senin (23/10). Sesuai dengan hisab yang dilakukan Majelis Tarjih PP Muhammadiyah, ijtima’ akhir tanggal 29 Sya’ban 1427 H. pukul 18.45 WIB. Sementara Nahdhatul Ulama masih juga belum menghasilkan kata sepakat dan menunggu sidang istbat dan rukyatul hilal pada ahad petang tanggal 29 Ramadhan bertepatan dengan tanggal 22 Oktober 2006, dan akan dipimpin langsung oleh mentteri agama Maftuh Basyuni. Beliau juga mengatakan kalau ada perbedaan itu wajar dan kita kan sudah biasa ada perbedaan. Jadi, kalau ada perbedaan itu bukan berarti ada percekcokan. Begitu juga dengan Ketua Umum PP Muhammadiyah meminta umat Islam dapat menerima perbedaan pendapat mengenai waktu jatuhnya 1 Syawal ini

Bagaimana peran serta pemerintah sendiri terhadap perbedaan ini. Menurut penulis ada satu titik lemah yang dimiliki oleh pemerintah dalam permasalahan umat ini. Titik lemah tersebut adalah pemerintah tak mau mengambil resiko dan cenderung bermain menang saja, namun pemerintah tetap juga belum mengambil langkah antisipastif. Malahan memasuki hari ke-15 Ramadhan pemerintah belum juga menyiapkan langkah-langkah ke arah itu. Ironisnya lagi lebaran yang hanya tinggal menghitung hari, belum juga menghasilkan keputusan final. Akibatnya, Idul Fitri yang merupakan hari kemenangan bagi umat islam menjadi lebaran yang membingungkan.

Semestinya, pemerintah mengambil peran dalam permasalahan ini. Bisa saja dengan mengundang para ulama dari berbagai ormas guna mendudukan permasalahan ini dan dari sinilah dihasilkan sebuah kata sepakat. P

*Pemred Buletin Papadaan

3 Tanggapan to “Lebaran yang Membingungkan”

  1. Adiantoro said

    I wonder why after many people go home to celebrate the “Lebaran” there are still many problems: corruptions, violences, etc. Why do we ask for forgiveness in our hometown? Why do we ask for it from people who we don’t meet for a long time? Our biggest sins come up from our relation with people around us. So, it is more logic if we ask for forgiveness intensively from our neighbour who we meet every day, not from them who are far far away from our actual daily life.

  2. azharku said

    still many problems? corruptions, violences, etc.why i can says, because we don’t have innocent heart…..we are muslim but not undestand what about muslim, we can say it….. “I am Muslim”, but we don’t really know learn islm and the problem is why do any crime, corruptions, etc.
    this back in our heart people

  3. sex said

    I got this website from my buddy who told me concerning this web site and at
    the moment this time I am visiting this site and reading very informative posts
    at this time.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: