Catatan Akhir Kuliah

Mystery Of The Nile

Puasa Menumbuhkan Sifat Malu

Posted by hafidzi pada 8 Oktober 2006

Secara kasat mata, di tengah berbagai tawaran dunia gemerlap, gaya hidup hedonisme, paham materialistik, dan berbagai kenikmatan lainnya, seperti sekarang ini, kita mafhum jika salah satu bagian dari iman manusia sudah mulai terdegredasi dan bahkan mulai hilang, yakni sifat al-haya’ atau perasaan malu (al-hayaau syu’batun minal iman). Ujian dan cobaan yang menerpa perasaan malu kita untuk tidak berbuat dosa dan pelanggaran sungguh luar biasa, karena hampir setiap hari kita dijejali oleh suatu pelanggaran atau paling tidak yang mengarah kepada pelanggaran terhadap hokum-hukum Allah. Sehingga, perasaan malu kita pun semakin hari semakin luntur dan terus mengalami degradasi. Kini, seiring dengan datangnya Ramadan, riyadhah untuk menumbuhkan kembali sifat malu itu kembali harus dimulai. Apakah sebenarnya yang disebut perasaan malu atau al-haya’ tersebut?

Al-haya’ secara etimologi berarti malu, yakni suatu sikap untuk menahan diri dari melakukan suatu perbuatan yang tercela atau meninggalkannya karena takut mendapat celaan dan penghinaan ataupun sanksi dari perbuatan tersebut. Kata malu sendiri banyak dibahas dalam kajian Ilmu Akhlak. Salah seorang pakar di bidang ini, Ibnu Maskawaih, mengatakan bahwa malu adalah sikap menahan diri karena takut melakukan perbuatan yang buruk, yang karena itu ia berusaha menjauhinya agar tidak mendapat celaan dan penghinaan. Menurut Barmawie Umary (1991) perasaan malu adalah perasaan yang timbul dalam hati di kala akan melanggar larangan agama, malu kepada Tuhan bahwa jika ia mengerjakan kekejian akan mendapat siksa yang pedih.

Dalam Alquran, kata al-haya’ diungkapkan dengan memberikan tambahan tiga huruf, yakni alif, sin, dan ta, yang dikombinasikan sehingga menjadi kata istahya. Kata ini disinggung dalam Alquran misalnya dalam surah al-Baqarah 26: “Sesungguhnya Allah tidak segan (la yastahyi) membuat perumpamaan berupa nyamuk…” Kata yastahyi dalam kalimat ini berarti melakukan perbuatan yang merupakan hak. Kemudian dalam al-Qashash 25: “Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua wanita itu berjalan agak kemalu-maluan”. Dan al-Ahzab 53: “Sesungguhnya yang demikian itu akan mengganggu Nabi lalu Nabi malu kepadamu (untuk menyuruh kamu ke luar), dan Allah tidak malu (menerangkan) yang benar”.

Menurut al-Jurjani (seorang ahli bahasa Arab, tasawuf, dan mantiq), malu itu terbagi menjadi dua bagian. Pertama, malu yang bersifat pribadi, yakni sifat malu yang diletakkan Allah pada setiap orang sebagai sebuah fitrah, misalnya perasan malu membuka aurat. Oleh sebab itu jika seseorang tidak malu-malu lagi untuk membuka auratnya bahkan memperlihatkan auratnya tersebut secara umum berarti sifat al-haya’ sudah hilang dalam dirinya, dan dia telah menyalahi fitrahnya selaku manusia yang sebenarnya.

Kedua, malu yang bersifat imani, yakni sifat malu yang tumbuh dan lahir dalam sanubari seseorang karena perasaan keyakinan atau keimanan yang mendalam kepada Allah Swt, sifat malu seperti ini tampak pada keseganan atau ketakutan seseorang yang beriman untuk melakukan pelanggaran, kemunkaran, maksiat, atau perbuatan dosa karena takut dan malu kepada Allah Swt, zat Yang Maha Mengetahui, Maha Melihat, dan Maha Mendengar, yang selalu mengawasi gerak-geriknya.

Menurut Anas Ismail Abu Daud dalam kitabnya Dalilu as-Sailin (2004), malu itu terbagi menjadi tiga macam.

Pertama, malu kepada Allah, yaitu merasa selalu diperhatikan secara langsung oleh Allah Swt sehingga dia mengerjakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya.

Kedua, malu kepada manusia, yaitu dengan cara tidak menyakiti dan tidak melakukan perbuatan yang tercela secara terang-terangan.

Ketiga, malu kepada diri sendiri, yakni dengan cara menjaga diri dari segala sesuatu yang tercela dan berkhalwat. Ketiga macam jenis malu di atas menurut Hasbi ash-Shiddieqy termasuk malu yang bersifat imani, sehingga dengan sifat malu yang seperti itu ia senantiasa menjaga dirinya (iffah) dari setiap perbuatan, tingkat laku, dan akhlak yang bisa mendatangkan sifat malu. Bahkan dikatakan, malu kepada Allah Swt, merupakan sendi keutamaan dan pokok dasar budi pekerti yang mulia. Sebab, dengan adanya rasa malu kepada Allah Swt, orang tidak akan berani durhaka dan melakukan pelanggaran terhadap-Nya, sebab dengan melanggar larangan atau mengabaikan perintah-Nya, baik terlihat oleh orang lain ataupun tidak berarti ia telah mengabaikan sifat malu imani yang ada dalam dirinya.

Malu seperti inilah sebenarnya yang dimaksudkan oleh Rasulullah Saw dalam berbagai sabdanya, misalnya: “Malu serupa itu (malu imani) seluruhnya akan membawa pada kebaikan” (HR. Bukhari dan Muslim). “Malulah kamu kepada Allah dengan sebnar-benarnya Malu” (HR. At-Tirmidzi). “Malu adalah bagian dari Iman” (HR. Muslim). “Malu itu tidak datang, kecuali dengan membawa kebaikan” (HR. Muttafaq ‘Alaih).

Berdasarkan kenyataan demikian, maka sebenarnya sifat malu menduduki posisi penting dalam diri setiap orang, baik fungsinya untuk mencegah seseorang dari melakukan perbuatan pelanggaran (dosa) ataupun dalam fungsinya memotivasi seseorang melaksanakan perintah dan anjuran (amal saleh). Orang yang memiliki sifat seperti ini semua anggotanya dan gerak-geriknya senantiasa akan terhaga dari hawa nafsu, karena setiap ia akan mengerjakan pelanggaran dan perbuatan yang tercela ia akan tertegun, tertahan, dan akhirnya tidak jadi mengerja, karena desakan perasaan malunya, takut mendapat nama yang buruk, takut mendapat siksa dan hukuman dari Allah Swt.

Intinya, sifat malu merupakan daya pencegah (perisai) di dalam diri seseorang untuk tidak mengulang perbuatan salah yang sama. Namun, rasa malu juga bisa luntur sedikit demi sedikit. Sehingga, jika seseorang tidak mempunyai sifat atau rasa malu lagi, maka tidak dapat diharapkan lagi timbulnya kebaikan dari orang tersebut. Bahkan, lebih dari itu malu juga akan menghantarkan seseorang kepada maqam sabar dan syukur, sebagaimana yang pernah dicontohkan oleh Nabi Ayyub as. Ketika diuji oleh Allah Swt dengan penyakit yang menjijikan, sehingga diusir oleh penduduk kampungnya sendiri, Nabi Ayyub as pernah disuruh oleh istrinya untuk berdoa kepada Allah memohon kesembuhan atas penyakit yang dideritanya. Atas permintaan istrinya tersebut dijawab oleh Nabi Ayyub as dengan singkat: “Aku malu untuk memohon (meminta) kesembuhan atas penyakitku ini kepada Allah Swt, karena Allah telah memberikan nikmat-Nya yang luar biasa banyak (nikmat sehat utamanya), dan jauh lebih lama daripada penyakit yang kuderita ini”.

Demikianlah, perasaan malu akan menjadi pembimbing ke jalan menuju keselamatan hidup, perintis mencapai kebenaran, dan alat yang menghalangi terlaksananya perbuatan yang tercela. Ramadan merupakan bulan penuh hikmah dan waktu strategis untuk memiliki sifat malu dan menahan diri. Karena di bulan Ramadanlah orang dididik, tidak hanya untuk menahan diri dan hawa nafsu dari haram, dari yang halal juga demikian, hingga waktu yang ditentukan. Dan sebagaimana kata ahli hikmah: “Memasuki bulan Suci Ramadlan, berarti kita memasuki Lembah Ilahi, dari hari ke hari, hingga genap sebulan atau 29 hari. Inilah waktunya bagi kita untuk menghayati hakikat puasa, baik puasa lahir maupun puasa batin, puasa fisik maupun puasa hati kita. Mudah-mudahan kita mampu menerapkannya.***

Zulfa Jamalie-Pelajar di Universiti Utara Malaysia, Sintok, Kedah,

2 Tanggapan to “Puasa Menumbuhkan Sifat Malu”

  1. diah said

    Trima kasih artikelnya, mengingatkan kembali pentingnya malu.

  2. Hidayatullah Rosyidi said

    AWW. Terima kasih atas artikel yang telah Antum sarikan dari Dalil al Sailin. Selanjutnya, bisakah saya dikirimi sumber rujukan asli Kitab Dalil al Sailin dalam bahasa aslinya (bahasa Arab)? Bagaimana cara mendownloadnya agar dapat saya baca melalui e-mail saya? Jawaban sangat kami nantikan. Syukron, Jazakumulloh… WWW.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: