Catatan Akhir Kuliah

Mystery Of The Nile

Menulis ‘Sesuai Pesanan’

Posted by hafidzi pada 14 September 2006

Sepertinya semua penulis kawakan pernah menerima ‘order’ untuk menulis tentang sebuah tema tertentu. Biasanya order tersebut berasal dari pihak penerbit. Memang wajar kalau penerbit ‘memesan’ sebuah tema tertentu, karena mereka pun hanya ingin menerbitkan tulisan-tulisan yang prospeknya cukup cerah, alias banyak peminatnya. Tema-tema yang kurang populer biasanya cukup sulit juga dijual.

Jangankan para penulis profesional, yang amatiran seperti saya pun cukup sering menerima pesanan tema-tema tertentu untuk diulas. Tentu saja tidak ada iming-iming duit, karena tulisan-tulisan saya pun sampai saat ini belum ada yang dipublikasikan dengan imbalan uang. Saya ‘kan masih amatiran.

Banyak orang yang kemudian bertanya-tanya : sampai manakah batas kewajaran seorang penulis untuk menerima ‘pesanan’ semacam itu? Apakah tindakan semacam ini bukannya malah menyerupai ‘pelacuran sastra’? Apakah ini berarti penulis tunduk pada pasar?

Saya sendiri berpendapat bahwa yang mendasari lahirnya sebuah tulisan adalah suatu hasrat tak tertahankan untuk menyampaikan sesuatu. Hasrat itu haruslah cukup besar sehingga mampu menggerakkan tangan kita menuliskannya di atas secarik kertas atau menekan-nekan tuts keyboard untuk menghasilkan sebuah tulisan tertentu. Menuliskan sesuatu hal yang tidak kita rasa penting sangatlah sulit (bahkan nyaris mustahil), karena kita akan kehilangan gairah di tengah jalan. Kalaupun berhasil juga, maka kita akan menghasilkan sebuah tulisan yang ‘tidak bernyawa’. Bagaimana mau meyakinkan orang lain kalau kita sendiri tidak seratus persen percaya pada isi tulisan kita? Kalau tidak mau menyampaikan sesuatu, maka mengapa harus menulis?

Oleh karena itu, saya sering menyarankan kepada teman-teman saya untuk tidak menulis sebelum hatinya merasa gatal untuk menuliskannya. If you don’t think it’s important enough, then it’s not worth writing! Jangan menuliskan hal-hal yang remeh-temeh. Tulislah hal-hal yang Anda anggap besar! Kalaupun kebanyakan orang menganggapnya sebagai hal kecil, maka yakinkanlah mereka bahwa hal itu memang benar-benar besar! Itulah manfaatnya tulisan, yaitu untuk menyebarkan pemikiran.

Di sisi lain, saya juga percaya bahwa di dunia ini tidak ada satu pun hal yang kecil dan tak berarti. Sebagai Muslim, saya percaya sepenuhnya bahwa tidak satu zat pun yang Allah ciptakan tanpa tujuan. Karena itu, bagi saya, seorang penulis yang baik haruslah memiliki semangat belajar yang sangat tinggi. Sebuah gairah yang membuatnya mau mengeksplorasi segala hal yang benar-benar baru baginya. Kalau menemui sebuah fenomena, maka ia akan memikirkannya secara mendalam. Anda tidak bisa menjadi penulis yang baik sebelum menjadi seorang pemikir yang handal. Jika Anda menulis tanpa pemikiran yang mendalam, maka Anda sama saja seperti seekor orangutan yang disuruh bermain-main dengan mesin tik.

Jadi, penerbit (atau teman sendiri) punya hak untuk ‘memesan’, tapi penulis pun punya hak untuk menolak atau menerima pesanan tersebut. Ada batasan-batasannya. Dengan keyakinan bahwa tidak ada satu hal pun di dunia ini yang bisa dianggap remeh, maka segala tema pun bisa menjadi bahan tulisan yang menarik. Setiap fenomena bisa menjadi bahan dasar sebuah novel pemenang Nobel Sastra.

Penulis boleh menolak ‘pesanan’ jika ia merasa memang belum cukup menguasai tema tersebut. Justru sikap semacam ini harus kita hargai, karena sang penulis berusaha memegang teguh objektifitas dan nilai keilmiahan dari tulisan-tulisannya (meskipun ia tidak sedang menulis sebuah karya tulis ilmiah). Tapi sebagai seorang pembelajar sejati, jika ia memang menyadari keterbatasannya dalam tema tersebut, maka langkah selanjutnya yang harus dilakukannya adalah mempelajari seluk-beluk masalah yang tadinya tidak dikuasainya tersebut.

Penulis juga boleh menolak ‘pesanan’ yang terlalu mendetil dan memaksakan opini. Misalnya penerbit menyuruh kita menulis tentang pentingnya penyebarluasan kondom di kalangan remaja untuk mencegah penyebaran HIV, padahal sang penulis justru berpendapat sebaliknya. Jika sang penulis terus memaksakan diri untuk memenuhi ‘pesanan’ tadi, maka integritas kerjanya akan berkurang drastis. Akhirnya, ia pun menjadi tidak lebih dari seorang ‘pelacur’ di dunia sastra. Ia telah menggadaikan idealismenya hanya demi uang. Apa yang akan tersisa jika Anda mengambil idealisme dari seorang penulis? Tidak ada!

Bagaimana pun, penulis memiliki hak atas isi tulisannya. Jika penerbit memintanya menulis tema ‘remaja’, misalnya, maka ia masih memiliki segudang pilihan. Ia bisa menulis tentang pergaulan muda-mudi yang makin hari makin kacau. Ia juga bisa menceritakan tentang kiprah beberapa orang sahabat dalam menghadapi masalahnya masing-masing. Ia bisa bercerita tentang sekolah, bisa juga tentang anak yang broken home. Atau tentang seorang remaja kelas 2 SMA yang sudah malang-melintang di dunia prostitusi? Bagaimana tentang seorang pemuda tanggung yang mampu menggoyang dunia bisnis dengan wirausaha yang dilakukannya bersama teman-temannya? Ada ratusan, ribuan, bahkan mungkin jutaan kemungkinan! Pesanan dari penerbit tadi sama sekali bukan harga mati. Ceritakanlah apa yang ingin kau ceritakan!

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: