Catatan Akhir Kuliah

Mystery Of The Nile

Jangan Menyerah pada Mood

Posted by hafidzi pada 14 September 2006

Tip ini mungkin tidak selalu cocok untuk semua orang, tapi sebagai alternatif, silakan dicoba. Telah disunting dari hasil diskusi yang diposting di Writers Tavern dengan judul Momen Untuk Menulis.

Saya kagum banget sama mereka yang bisa tetep konsen dalam ‘kegaduhan’. Karena nyerah sama hal seperti itu, saya jadi freelancer.

Dulu saya biasa menunda-nunda nulis (dengan alasan belum mood) hingga menjelang deadline. Tapi karena sudah ada kewajiban pagi (dulu sebelum ada suami, kalo nggak ngantor ya kuliah paginya) dan sempet sakit beberapa kali, saya kapok begadang. Mau nggak mau harus ‘maksain’. Arti sederhananya seperti tip Isman: niat. Saya nggak mau lagi menyerah sama mood (walau belum seratus persen sukses mengaturnya) karena sering merugikan. Misalnya kalo ada deadline, perubahan mendadak dan lain sebagainya. Lagi tidur pun otak saya suka memikirkan ide yang mentok di tengah jalan, dan mencari solusinya.

Daripada tidur keganggu, saya sedia meja tulis kecil, kertas dan pulpen..langsung bangun, nulis, dan tidur lagi dengan pulas. Suasana itu harus diciptakan sendiri, apalagi saya orangnya super bosenan. Gampang banget jenuh. Dalam setahun ini aja, komputer udah pindah posisi 5 kali. InsyaAllah udah nyaman sekarang karena posisinya deket jendela yang menghadap kebun, minimal ada ijo-ijo untuk menyegarkan mata yang capek(meski prakteknya suka lupa menengok dan maksain mata belel).

Musik bisa membantu, tapi sebentar aja untuk refreshing. Instrumental yang lembut kadang malah bikin ngantuk atau merinding (kalo udah malem dan orang rumah udah pada tidur). Saya banyak belajar soal manage waktu ini dari Mbak Mei Rose, penulis novel Kerlip Istana Bintang. Beliau ibu rumahtangga yang lumayan sibuk, tapi bisa menulis novel 120-an halaman dalam sebulan. Itu udah hebat banget buat saya. Beliau nggak pernah menetapkan jam alamiah. Repot kalo terpaku biasa nulis pagi-pagi, misalnya..sementara anak harus ke sekolah dan suami mau ke kantor, beres-beres dan selanjutnya. Jadi saya menulis kapan pun sempat, separagraf pun nggak masalah. Pokoknya ada progress tiap hari.

Singkatnya, momen tepat untuk menulis adalah: saat ini. Kalo merasa diri nggak bisa dan kekurangan waktu, ya nggak akan pernah kebagian waktu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: