Catatan Akhir Kuliah

Mystery Of The Nile

Lailat al-Qadr

Posted by hafidzi pada 13 September 2006

COBALAH buat semampu Anda peta alam semesta dengan sekian miliar bintang dan planet yang bertebaran di angkasa raya. Buatlah dulu planet yang paling dekat dengan Anda, bumi kita ini. Lalu satelitnya, yaitu bulan, yang berjarak kira-kira 384.400 km. Kemudian bintang yang terdekat dengan kita, matahari yang jarak rata-ratanya dari bumi sekitar 149.598.500 km. Lalu benda-benda angkasa lain yang jumlahnya tak terhitung, yang besarnya 2 kali bumi, yang 6 kali bumi, yang 16 kali bumi, yang 600 kali bumi, yang 6.000 kali bumi, yang 6 miliar kali bumi.

Kemudian, apakah Anda mampu membuat skalanya? Kalau tidak, cobalah katakan, dalam peta perbandingan dengan sekian miliar atau mungkin sekian triliun benda-benda angkasa luar yang meliputi bintang-bintang dan planet-planet itu, kira-kira sebesar apakah bumi kita ini? Sebesar butir kacang hijau? Atau bahkan sebutir debu?

Taruhlah kita bayangkan saja bumi kita sebesar sebutir kacang hijau, lalu sebesar apakah kita manusia penghuni bumi yang berjumlah kira-kira 5 miliar ini?

Setelah itu, apakah Anda bisa membayangkan betapa besar Allah yang menciptakan alam semesta ini. Allahuakbar. Kalau untuk menghitung makhluk-Nya yang besar-besar saja, kita kehabisan angka dan kata, bagaimana kita mampu mengukur kebesaran Dia. Kita hanya bisa mengatakan Allahuakbar, Allah Mahabesar. Dan, kita tak tahu seberapa besar kandungan kata “maha” di sini karena kemahakecilan kita.

Sekarang renungkanlah! Allah Yang Mahabesar seperti itu berkenan menyapa, berfirman kepada kita, manusia yang mahakecil ini. Bukankah itu menunjukkan Mahakasih-Nya dan bagi kita merupakan mahaanugerah.

Sapaan atau firman Allah itu kemudian kita sebut sebagai Alquran. Malam saat kitab suci itu turun ke bumi yang kecil ini disebut Lailat al-Qadr atau Malam Qadar, Malam Kemuliaan. Innaa anzalnaahu fii Lailatil Qadr; wamaa adraaka maa Lailatul Qadr?Lailatul Qadr khairun min alfi syahr (QS 97: 1-3). “Sesungguhnyalah Kami telah menurunkannya (Quran) di Malam Kemuliaan. Tahukan kau apa itu Malam Kemuliaan? Malam Kemuliaan lebih baik dari seribu bulan.”

Tentu saja malam saat Yang Mahabesar berkenan menurunkan firman kepada kita yang mahakecil ini merupakan malam yang sangat istimewa bagi kita. Untuk memperingati anugerah yang sangat istimewa itu, sudah sepatutnyalah kita mengistimewakannya dengan syukur yang istimewa pula. Yaitu dengan meningkatkan ketekunan ibadah. Rasulullah SAW seperti dikisahkan istri beliau, Sayyidatina Aisyah, apabila telah masuk hari kesepuluh yang terakhir dari Ramadan meningkatkan kegiatan menghidupkan malam-malamnya dengan beribadah. Beliau bangunkan anggota keluarganya dengan sungguh-sungguh dan menyingsingkan lengan baju (HR Muslim).

Rasulullah SAW mencontohkan kepada kita umatnya agar menyikapi malam istimewa itu dengan syukur yang dalam dan meningkatkan ketekunan beribadah. Apabila kemudian ada jaminan bahwa barang siapa njungkung, tekun beribadah di Malam Qadar dengan sepenuh iman dan semata-mata mencari rida Allah agar ada pengampunan terhadap dosa-dosanya yang sudah-sudah. Ini merupakan kemahamurahan pula dari Allah. Anugerah apakah yang lebih besar bagi manusia yang tak pernah sepi dari dosa ini yang melebihi ampunan-Nya?

Apabila Rasulullah SAW yang tidak punya dosa saja begitu hebat melakukan ibadah sebagai ungkapan syukur hamba kepada Tuhannya Yang Mahamurah, bagaimana dengan kita?

Banyak di antara kita yang lebih sibuk menerka-nerka kapan tepatnya malam lailatulkadar itu karena anggapan yang entah dari mana asalnya bahwa malam istimewa itu menyimpan peluang keistimewaan bagi yang memergokinya. Lebih ironis lagi bila kebanyakan mereka hanya mengadang keistimewaan bagi kepentingan-kepentingan duniawi mereka. Memang ulama-ulama dahulu juga membicarakan tentang kapan pasnya lailatulkadar itu namun lebih karena ingin agar syukur dan ibadah mereka menepati malam istimewa. Hubaya-hubaya syukur dan ibadah mereka mendapat penerimaan yang istimewa dari Tuhan mereka.

Kapan tepatnya malam istimewa itu memang wallahu aílam dirahasiakan. Tak ada yang mengetahuinya dengan pasti. Sebagaimana wali Allah dirahasiakan, antara lain supaya kita berhati-hati memandang orang agar kita menghormati atau setidaknya tidak meremehkannya sekalipun misalnya orang itu di mata kita kurang pantas dihormati. Malam Qadar hanya diberitahukan bahwa itu berada pada Ramadan. Orang cerdik yang ingin mendapatkannya, dia akan mencari ke semua malam-malam Ramadan. Mereka yang ingin mendapat pengampunan dengan ketekunan ibadah mereka di Malam Qadar, pasti akan mendapatkan malam istimewa itu bila mereka tekun beribadah pada setiap malam pada bulan Ramadan.

Berbahagialah mereka yang menjumpai malam itu dalam syukur dan ketekunan ibadah yang berarti mereka mendapatkan pengampunan Allah atas segala dosa mereka yang sudah-sudah. Karena dengan demikian, mereka setelah itu akan memulai hidup baru dengan dada yang lapang dan langkah yang ringan tanpa terbebani belenggu-belenggu dosa. Memandang ke depan penuh gairah dan kemantapan dengan taufik hidayah dan rida Allah. (14j)

Oleh: A Mustofa Bisri

– Penulis adalah pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Rembang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: