Catatan Akhir Kuliah

Mystery Of The Nile

Turut Berduka Atas Meninggalnya Diskusi

Posted by hafidzi pada 11 September 2006

Ada keterkejutan ketika seorang kawan mengabari saya perihal kondisi diskusi yang sekarat. Isunya, diskusi akan diganti dengan kuliah tujuh menit pada bulan Ramadhan. Meski kerap absen – tercatat dua kali hadir, selebihnya berhalangan -, namun saya sungguh menyayangkan bila kemudian diskusi benar-benar dikebumikan. Kondisi terakhir diskusi memang sepi pengunjung. Konon sebab benturan dengan pertandingan sepakbola. Saya memang belum sempat bertanya – lebih tepatnya malu, sebab saya adalah presentator ketika itu – mengapa terjadi tabrakan jadwal antara bola dan diskusi. Mungkin, karena kepadatan agenda hingga terjadinya tumpang tindih kegiatan. Mungkin juga diskusi tidak lagi menjadi prioritas. Kalah bersaing dengan prioritas-prioritas lain.

Merupakan takdir diskusi yang memang tidak mampu menyedot banyak pemirsa. Terlebih apabila didukung oleh sosialisasi yang minim. Berbeda – atau sangat mungkin sama – dengan agenda DP KMKM lainnya. Sebutlah seumpama rihlah yang konon tahun ini merupakan rihlah “tersukses” dalam sejarah KMKM. Sukses yang tentunya merupakah hasil kerja keras semua pihak yang dilibatkan. Di mulai dari terbentuknya kepanitiaan yang solid, beberapa kali rapat dan dengan semangat kebersamaan yang mungkin begitu nyata.

Kasusnya akan beda dengan diskusi. Tidak banyak pihak yang terlibat, baik di belakang layar, di tengah dan di depannya. Rapat yang membincang serius tentang format ideal diskusi KMKM mungkin belum pernah digelar. Atau bahkan tidak perlu, mengingat tidak pentingnya diskusi. Ala kulli hal, penting tidaknya diskusi, semua terserah anda.

Diskusi yang sepi, sangat bisa jadi merupakan barometer kelesuan – untuk tidak mengatakan kesekaratan – kehidupan intelektual KMKM. Sebagai mahasiswa tentu sangat naif bila kita dipaksa sibuk dengan aktifitas yang tidak memahasiswakan. Setidaknya dalam sehari ada jatah waktu yang konkrit sebagai ejawantah (penjelmaan diri) bahwa kita adalah mahasiswa. Dalam hal ini, semua kita – tidak hanya Syarif yang terhormat – bertanggungjawab atas kelangsungan hidup diskusi KMKM. Setidaknya diskusi adalah rutinitas ilmiah yang bikin hidup lebih hidup.

Kenyataannya, diskusi terbukti mampu memberanikan diri untuk mengungkapkan “perasaan”, melatih emosional, untuk lebih menghargai perbedaan dan tampil pede meski dengan tanpa bedak BB harum sari. Pede menjadi sangat amat penting. Terlebih saat berhadapan dengan masyarakat. Diterima atau tidaknya masing-masing kita di masyarakat, sangat ditentukan oleh tingkat ke-pede-an. Sudah barang tentu adalah pede yang berkualitas. Dan bukankah Nabi Yang Mulia adalah seorang yang pede?

Pertanyaannya adalah mengapa diskusi KMKM seakan kehilangan nafasnya? Mungkinkah masing-masing kita telah kenyang dengan intelektual, hingga diskusi menjadi basi? Ataukah pencerahan intelektual tidak begitu penting lantas kita menyampahkannya?

Sangat banyak kemungkinan yang bisa menjawabnya. Sebutlah seumpama materi diskusi yang “ngga kita banget”, presentator yang “itu-itu aja”, kurangnya persiapan pihak atas-bawah yang terlibat dalam diskusi dan atau masih banyak kemungkinan lainnya. Karenanya DP KMKM perlu mengkaji serius latar belakang kelesuan diskusi tersebut. Bila perlu DP KMKM dapat mengundang para pakar untuk berseminar ria dengan agenda utama seumpama “Ke Arah Diskusi KMKM Yang Mencerdaskan Kehidupan Bangsa”. Meski merupakan penyakit tahunan, tetapi sungguh tidak bijak bila kemudian menjadikannya alasan hingga menafikan usaha untuk mengadakan perbaikan kualitas diskusi. Pembiarannya akan menyebabkan penyakit tersebut semakin mengganas kemudian mematikan.

Bincang-bincang santai di kediaman Om Syaiful yang menggagas kembali format “diskusi serius” membahas masalah krusial yang riil terjadi di masyarakat, sepatutnya mendapat apresiasi yang aktif dari semua kalangan. Konsep ini memang pernah nongol di masa kepemimpinan Hikam. Kemudian ditenggelamkan oleh keadaan. Merupakan keharusan untuk menghidupkannya kembali. Sebab diskusi yang bersinggungan langsung dengan kondisi masyarakat akan sangat membantu dalam mengamati pola keberagamaan mereka. Selanjutnya memberikan solusi konkrit permasalahan yang sedang dihadapi. Kasus Guru Abung, Nûr Muhammad, penjualan tiket ke surga, pencitraan negatif jebolan Kairo dan masih banyak lagi, semuanya adalah merupakan PR yang harus kita selesaikan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Kesemuanya tentu adalah bila diskusi memang perlu diselamatkan dari kesekaratannya. Sebaliknya, DP KMKM tidak perlu repot-repot mengurusi diskusi bila ijma’ KMKM memutuskan untuk mengebumikan diskusi. Innâlillâhi wa Innâ Ilaihi Râji’ûn.

Oleh: Nasruddin Atha, Lc*

*Mahasiswa Pasca Sarjana Univ.Zamalek, Pemerhati KMKM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: