Catatan Akhir Kuliah

Mystery Of The Nile

Sudahkah Saya Shalat?

Posted by hafidzi pada 11 September 2006

Bicara shalat memang sudah basi, terlebih di kalangan para cendikiawan yang sudah paham betul tentang rukun Islam, bahkan -barangkali- sudah bosan dengan shalat itu sendiri. Kebosanan tersebut sedikit banyaknya disebabkan oleh derasnya arus perkembangan nalar manusia sesuai dengan tuntutan ruang dan waktu, disamping juga dikarenakan prinsip-prinsip sains yang sudah menjadi landasan berpikir manusia abad modern. Jadi, wajarlah kalau hasil produk berpikirnya juga canggih. Artinya, segala sesuatu yang sudah menjadi dogma (kepercayaan) baku sebuah ajaran, selalu dilihat lewat kacamata sains. Kalau sesuai, ya diambil, kalau nggak ya harus dibuang.

Shalat adalah salah satu contoh. Menurut pandangan para antropolog (ahli kebudayaan kuno), shalat adalah salah satu bentuk ritual sebuah masyarakat. Shalat merupakan hasil refleksi (renungan) panjang mereka tentang identitas jagat raya ini. Didalam shalat, terdapat beberapa gerakan yang mengisyaratkan makna tertentu. Jadi, istilahnya, shalat itu adalah sebuah literatur (buku) yang berbentuk gerakan-gerakan. Lewat shalatlah seorang yang beragama bisa membaca kembali nilai-nilai yang telah diajarkan nenek moyangnya beberapa abad yang lalu.

Diakui memang, menurut mereka, setiap komunitas masyarakat tentu mempunyai corak dan gaya hidup masing-masing. Demikian pula dengan shalat. Shalat memiliki bentuk yang beragam sesuai dengan sikon, kepercayaan dan sosiohistoris (sejarah hidup) masyarakatnya. Jadi, prinsip berpikir semacam ini pada gilirannya meniscayakan sebuah asumsi (pemikiran) bahwa tidaklah tertutup kemungkinan di zaman sekarang akan ada lagi bentuk shalat dengan gaya baru. Yang penting kan nilai spiritnya! Demikian -akhirnya- semboyan yang sering terkumandang.

Kalau ditilik lewat kaca mata logika, memang ada benarnya juga. Yang penting kan esensinya. Tetapi mengingat pola berpikir kawula muda kita yang terkesan lebih bersifat ambisius, agaknya kepercayaan semacam ini bukannya memberikan pencerahan, tetapi justru malah menjauhkan mereka dari nilai-nilai yang terkandung dalam gerakan ritual tadi. Akhirnya karena ingin mengambil jalan pintas, shalatnya cukup dengan memejamkan mata sambil merenung.

Sebenarnya pekerjaan seperti itu nggak salah, malahan Sidarta Gautama (seorang bijak penggagas ajaran Budha) menganjurkan shalat alathul atau yoga, yang dalam istilah sufisme-nya disebut dengan muraqabatunnafs (selalu introspeksi diri). Akan tetapi pada prakteknya, yang lebih kelihatan adalah gayanya, keren-nya dan juga kesan keberaniannya dalam memeraktekkan gagasan yang menurut mereka baru.

Baru? Apanya yang baru. Didalam dunia pemikiran tidak ada istilah baru. Yang baru itu kitanya, kita yang baru tahu kalau hal itu bisa dilakukan begini dan yang begini bisa dilakukan begitu. Logika filsafatnya kan begitu, sebagaimana komentar Hegel tentang pengetahuan manusia yang relatif. Lalu, yang baru itu apanya?

Ya tidak ada yang baru kecuali kalau kita mau mengasah kembali kesadaran, baik terhadap diri sendiri maupun terhadap lingkungan sekitar. Lho, mengapa harus begitu? Bukankah kita sudah sadar, dalam artian sudah Islam dan sudah sering shalat, terserah apakah shalatnya dengan gaya konvensional -sebagaimana nabi Muhammad shalat- atau dengan gaya baru tadi.

Saya pikir, disini letak kritis kita terhadap prilaku kita selama ini. Kita sebagai seorang guru agama atau pimpinan lembaga yang sifatnya keagamaan, taruhlah umpamanya sebuah universitas, atau organisasi kumpulan para ulama dan atau yang lainnya. Realitanya, di satu sisi, kita berada pada kubu kebenaran, tetapi pada sisi yang samar oleh mata kita sendiri, kita sebenarnya tengah melakukan tindakan anarkis didalam maupun diluar pengetahuan kita. Sulitnya, ketika orang lain mengetahui hal itu dan langsung memberikan nasehat, kita sering tertipu dengan diri sendiri yang tak pernah merasa salah. Lebih sulit lagi ketika kita sudah mendewakan baik terhadap diri kita sendiri maupun terhadap latar belakang dan sejarah yang merupakan cerminan kepribadian kita. Sudahkah kita shalat?

Shalat? Ngapain? Dan apa hubungannya? Boleh nggak sejenak saya merenung? Saya ingin shalat. Maksud saya, menyalatkan nafsu, alias ego saya yang selama ini -menurut hemat saya yang dangkal- masih belum pernah dishalatkan. Karena yang selama ini shalat, kan cuma hati, lidah dan badan saja. Disinilah barangkali hikmah mengapa Tuhan menganjurkan juga puasa, zakat dan haji. Tapi lagi-lagi ego kita masih belum juga shalat. Sampai kapan?!

Makanya didalam Al-Quran ada kalimat-kalimat yang tak kalah kuantitasnya dengan kalimat As-Shalat. Kalimat tersebut diantaranya: afala tatafakkarun, la’allakum ta’qilun, ayatun li ulil albab dan sebagainya. Jadi, disamping shalat yang ada, kita masih harus shalat lagi. “Apakah kalian harus menunggu Aku untuk menyalatkanmu?” Kata Tuhan kepada mereka yang masih ingkar. Maaf, ini cuma istilah saya. Tuhan tidak pernah berkata seperti itu. Saya hanya memahami bahwa azab yang datang dari Tuhan itu adalah bentuk kepedulian Tuhan untuk menyalatkan hambanya yang masih belum shalat. Salah nggak? Saya punya bukti lho!

Salah satunya, kisah-kisah didalam al-Quran. Para pembangkang baru sadar setelah mereka mendapatkan suatu bala yang datang dari langit. Fir’aun, Qarun, Haman dan lainnya, adalah sejumlah pribadi yang baru sadar setelah Tuhan memberikan sangsi. Dari sini saya bisa menyimpulkan bahwa kesakitan fisik disisi lain juga membawa dampak positif. Orang lebih sering bisa disadarkan oleh kejadian-kejadian yang cukup menggonjangkan jiwa. Kematian, kehilangan, kecelakaan dan sebagainya, ternyata lebih bisa membuat kita mengintrospeksi diri. Kalau begitu, mendingan kita memalangkan diri saja biar sadarnya lebih sering!

Tidak! Tidak seperti itu prakteknya. Tuhan melarang kita menelantarkan diri. Kemalangan itu bisa diartikan lebih luas, tidak cuma terbatas pada malapetaka seperti itu. Di dunia ini masih banyak orang miskin, orang cacat dan mereka yang hidupnya tidak nyaman. Dan juga tidak sedikit dari mereka yang tidak menerima kenyataan yang ada. Hanya saja, ketidaksadaran mereka lebih bisa ditolerir ketimbang mereka yang diberikan anugrah melimpah ruah. Makanya Nabi Muhammad pernah meminta kepada Tuhan agar hidupnya sama dengan orang miskin, karena air mata lebih bisa membuat kita sadar ketimbang gelak-tawa, gagap-gempita dan sorak-tampik kesenangan materi.

Akhirnya, maafkan saya yang dalam penulisan ini lebih menampakkan sikap sok tahu saya. Tulisan ini lebih saya tujukan kepada diri saya pribadi, karena saya juga belum termasuk dalam golongan orang-orang yang sadar. Saya masih bertanya pada diri sendiri: Sudahkah saya shalat? P

Syarif Amir Mahmud*

*Ketua KMKM 2005-2006

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: