Catatan Akhir Kuliah

Mystery Of The Nile

Menyimpang Dari Tujuan

Posted by hafidzi pada 11 September 2006

Ketika keindahan tak lagi terlihat indah.

Benda busuk terasa begitu nikmat.

Sesuatu tak bermakna lebih digemari dari hidangan Tuhan.

Mungkin hatiku tak berbentuk lagi.

Untuk memuaskan berontak diri.

Kemudian masa depan terlihat suram.

Terlupa bahwa bumi akan berhenti berputar.

Masa mendatang pun tampak lebih mengerikan.

Hari itu, dimana alat transportasi tujuan kekuliah selalu penuh. Dipadati mahasiswa yang tak sabar ingin melihat hasil usahanya selama setahun. Tak terkecuali aku, walaupun dengan pengorbanan, kupaksakan pergi ke kuliah, juga tak sabar ingin melihat hasil ujian.

Pulang dari kuliah, keceriaan tampak melekat diwajah teman-teman. Begitu juga aku, dengan senyuman, senda dan tawa selalu mengiringi perjalanan pulang. Tetapi, semua itu hanyalah topeng, sebuah cadar untuk menutupi tangisan hati.

Beberapa bulan yang lalu, sebelum pesta ujian dimulai. Aku masih ingat ketika Bobi tak henti-hentinya mengajakku belajar bersama. “Buku yang kemaren mana? Kita baca bersama yuk!” ajaknya untuk yang kesekian kalinya. “He.. he.. Emmm, Anu Bang, saya mau kerumahnya Rudi, ada film bagus katanya” aku berusaha menghindar. Seakan membaca buku, bukanlah bagian dari belajar.

Duduk lama didepan gambar bergerak, lebih kusukai dari pada duduk sebentar sambil memegang buku. Bukan hanya itu, banyak waktu kubuang dengan beberapa wajah, menampar wajah-wajah lain dari belakang, serta kunikmati daging busuk mereka. Seperti tak sadar, diri pernah bersaksi bahwa hanya Allah-lah Tuhan yang patut disembah. Mungkin aku lupa akan tujuan. Mungkin aku menyimpang dari tujuan.

*********

Dua jam yang lalu, ketika tubuhku tepat berdiri dimuka papan pengumuman, dan telunjukku mulai mengitari nomor-nomor yang terpampang dikertas putih itu. Mencari nomor yang sesuai dengan yang ada di kartu mahasiswaku. Sebentar usahaku terhenti, melihat seseorang yang dari tadi juga tegak disamping, kini telah dianggung beberapa temannya keluar, mendengar hasil ujiannya menempati tingkat istimewa. Teman yang disebelah kananku pun sudah keluar, disambut dengan kata selamat dan pelukan dari teman-temannya. Aku juga berharap bisa seperti mereka. Ah.., tidak mesti seperti mereka, bisa naik tingkat pun itu sudah sangat memuaskanku.

Telunjukku masih mengurut nomor-nomor itu. Hampir dapat. Sedikit lagi. Naaah, ini dia. Telunjuk yang dari tadi mengitari kertas dengan arah kebawah, kini berubah dengan arah menyamping.

Seketika terlintas di benakku, ketika Budi beberapa kali menelponku, tak bosan-bosannya mengajakku ke majlis ilmu. Tetapi, tak pernah sekalipun ajakannya kuiyakan. Namun, ketika teman dari dunia maya mengajakku berbohong di dunia penuh hayal, tak pernah kutolak ajakannya.

Dulu, ketika telinga ini masih gemar mendengar dengungan-dengungan ayat Tuhan didengungkan. Tetapi kini, mungkin hatiku telah terbalut, tertutup banyak dosa, sehingga musik lebih sering kudengar daripada Al-Qur’an. Mungkin ku terlupa akan tujuan. Mungkin ku menyimpang dari tujuan.

*********

Bangun tidur, badanku terasa begitu sakit, mungkin karena terlalu lelah menunggu, dan berjejalan dalam bus siang tadi. Ada surat! Sepucuk surat diapit dua buku dimeja belajarku. Tidak tahu siapa yang meletakkannya. Seketika langsung kudekati meja itu. Tanpa memegangnya, kulihat tulisan tangan yang kayaknya pernah kukenal.

“Buat: Anakda Muhammad di Mesir” Ooh, dari Mama toh. Setelah kubuka, kubaca dan kupahami, mataku seakan ingin mengeluarkan sesuatu. Tiga kalimat yang membuat hati dan mataku menangis.

“Nak.., Mama tidak bisa kirim apa-apa selain do’a dan surat. Tahun ini sawah kita gagal panen, kampung kita dilanda banjir. Kami disini hanya berharap anakku bisa belajar dengan baik, dan kuliahnya selalu lancar” tiga kalimat sebelum Mama mengakhiri surat itu.

Air mataku jatuh. Sebenarnya bukan karena membaca surat itu. Rasa bersalah karena tidak bisa menjadi anak yang sesuai dengan harapan orang tua, terlalu keras menampar permukaan hatiku.

Siang tadi, ketika telunjukku menemukan nomor yang kucari. Pikiranku mulai tak karuan. Seketika hati menjadi gundah. Persendian pun terasa lunglai. Lebih setengah dari semua mata kuliahku diberi tanda bundar, yang berarti nilainya buruk atau buruk sekali.

Tahun ini aku merasakan hal yang paling mengerikan. RASIB. Suatu hasil yang melanda mahasiswa karena ketidakberuntungan. Atau barang kali, karena kemalasan dan penyimpangan tujuan.

Dua kali kuperiksa nomor itu, namun kenyataannya memang benar. Memang benar aku rasib.

Kumasukkan kembali selembar kertas itu kedalam amplopnya. Dan pikiranku masih menerawang. Apa yang akan kukatakan kepada mereka tentang kegagalan ini? Dan bagaimana perasaan mereka ketika mendengar semuanya? Aku masih belum beranjak dari kasur itu. Beberapa kenangan yang melintas dan berputar-putar dibenakku, membuat kelopak mata tak sanggup menahan tetesan air yang mau keluar.

Mama.. maafkan saya, maaf karena tidak bisa menjadi anak sesuai harapan kalian. Maaf…, maafkan saya, Mama.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: