Catatan Akhir Kuliah

Mystery Of The Nile

MENJADIKAN MESIR SEPERTI YANG KITA INGINKAN

Posted by hafidzi pada 11 September 2006

Lautan berada dibelakang, musuh berada didepan, tak ada yang dapat dilakukan kecuali ketabahan dan kesabaran” -Thariq bin Ziyad-

Sejarah mencatat dengan tinta emas kemenangan gemilang umat Islam dalam menaklukkan Andalusia pada tahun 711 M, saat itu jumlah umat Islam yang hanya 13.000 dengan pimpinan Thariq bin Ziyad berhasil mengalahkan tentara Roderick yang berjumlah 100.000 orang. Yang menarik dari sejarah ini adalah khutbah Thariq sesampainya di pantai Andalusia, khutbah yang sederhana itu mampu memberikan semangat baru untuk pasukan Muslim dalam menghadapi musuh.

Analogi sejarah diatas hampir dapat kita kiaskan dengan pencari ilmu ke Ardh Anbiya ini, ketika roda pesawat menyentuh landasan Kairo International Airport, sama halnya dengan berlabuhnya kapal pasukan Thariq di pantai Andalusia. Saat itu tidak ada jalan untuk kembali ke tanah air atau memikirkan hal lain, menciutkan nyali untuk berjuang mencari ilmu di Negeri Seribu Menara ini. Ya, tidak ada yang dapat dilakukan kecuali bertahan dengan ketabahan dan kesabaran. Hanya ada dua pilihan, menjadi pemenang dan meraih kesuksesan atau menjadi golongan orang-orang yang kalah dengan menyia-nyiakan waktu dan keadaan.

Masih jelas dalam pandangan kita kata mutiara yang terpampang di Bandara Kairo “Kairo, jika kamu tak bisa menaklukkannya kamu akan ditaklukkan olehnya”, atau bahkan firman Allah SWT dalam surat al-Baqarah ayat 61 ketika memerintahkan Musa AS dan pengikutnya untuk masuk Mesir “pergilah kamu ke Mesir, pasti kamu memperoleh apa yang diminta”. Dua pernyataan ini merupakan motivasi bagi setiap orang yang akan memasuki Mesir, agar selalu siap sedia menghadapi apapun yang terjadi.

Nyatanya, tidak semua orang berhasil dalam menaklukkan Mesir dan mendapatkan sesuatu yang diimpikannya. Setelah melihat kesemrawutan, kekotoran, pelayanan yang buruk, sulit mencari rumah dan kondisi udara yang dingin, tidak sedikit para mahasiswa yang menyerah. Belum lagi diteror dengan isu ujian yang sulit dan diktat kuliah yang tebal. Maka amat sangat tepat apabila muncul anggapan bahwa Mesir tidak seindah yang diimpikan.

Sebagai seorang Muslim yang berjuang fi sabiilillah, tidak patut kita bertekuk lutut menghadapi keadaan ini. Sesampainya di Mesir, tidak ada pilihan bagi kita kecuali bertempur dan berperang, masalah menang ataupun kalah adalah urusan Tuhan. Oleh karena itu mulailah untuk mempersiapkan perbekalan, mempererat ikat pinggang demi menghadapi tantangan. Sekarang yang perlu dihadapi adalah bagaimana agar kehidupan di Kairo lebih terarah, lebih memberikan motivasi untuk sukses.

Ada sebuah kunci agar terus bersemangat, bahwa selama masih berpegang teguh kepada niatan awal untuk menuntut ilmu, seburuk apapun keadaan Mesir tidak akan berpengaruh kepada kita, segala sesuatu yang terjadi tidak akan menjadikan kita orang yang putus asa untuk terus berjuang menggapai ridha-Nya.

Harus diakui, godaan di Kairo sangat besar, bahkan mungkin lebih besar dari Indonesia, sedikit terlena kita akan terkena virus yang sulit disembuhkan. Tidak sedikit Masisir yang hanya menghabiskan waktunya diatas tempat tidur, di warnet ataupun di depan komputer. Di sisi lain tidak sedikit pula yang bisa mempertahankan diri untuk selalu ke kuliah, rajin talaqqi, aktif kajian ataupun aktif organisasi. Namun kenyataannya disekitar kita kondisi pertamalah yang lebih banyak didapatkan.

Menjadi mahasiswa yang proporsional merupakan idaman. Tidak ada yang melarang kita tidur, ke warnet atau menyaksikan bioskop di depan komputer. Akan tetapi membuat beberapa hal diatas seimbang itu adalah tuntutan. Dunia ini bukan hanya berada di rumah atau warnet saja, kita akan mendapatkan banyak hal baru yang lebih bermanfaat apabila kita mengetahui manfaat dan faedah yang dapat diambil dari negara gudang ilmu ini. Berapa banyak sumber-sumber ilmu yang tersebar di negeri ini belum sempat terjamah oleh kita?

Disamping itu, kata mutiara yang mengatakan “sesungguhnya waktu kosong, waktu muda dan kekayaan adalah sebenar-benar perusak” adalah tantangan bagi kita. Dua poin yang menjadi perusak ada dalam diri dan jiwa kita, waktu kosong dan waktu muda. Kuliah tidak wajib, tinggal di tempat terpencil, musim dingin merupakan godaan untuk tetap menimbun diri dibawah selimut, ditambah lagi dengan godaan waktu muda. Tanpa kontrol yang baik, diri kita akan terombang ambing tidak karuan selama di Mesir, hasilnya adalah manusia malas, minimalis dan skeptis yang layak disebut the looser.

Belum lagi nuansa eksklusif yang sampai saat ini masih terasa cukup kental, akibatnya beberapa anggota kesulitan dalam beradaptasi dengan rekan-rekan Masisir lintas daerah. Tidak diragukan lagi, bahwa potensi anggota KMKM amat sangat besar, tidak kalah dengan rekan-rekan Mahasiswa Indonesia lain. Namun sampai saat ini, potensi yang besar itu masih terpendam dikarenakan kurangnya wadah penyaluran. Kalau anda keluar dari keterasingan dan keterpencilan, anda akan mendapatkan bahwa apapun potensi yang anda miliki dapat dikembangkan dan diasah, dengan syarat harus mulai membuka diri dan berinteraksi aktif dengan rekan-rekan lain daerah.

Selain itu, menciptakan lingkungan yang kondusif untuk mensukseskan proses mencari ilmu, juga menjadi poin penting keberhasilan kita menghadapi godaan-godaan Kairo. Teman serumah merupakan panutan, entah itu baik ataupun buruk. Bahkan ada adigium yang mengatakan, apabila anda ingin mengetahui seseorang, jangan melihat kepada orangnya, tapi lihatlah orang-orang yang berada disekelilingnya. Apabila teman serumah kita cenderung untuk menyia-nyiakan waktu dan masa muda, kemungkinan kita untuk terpengaruh amatlah besar. Makanya ketika kita menemukan ketidaksesuaian kondisi rumah dengan niat dan tujuan awal, pindah merupakan solusi terakhir ketika tidak mampu merubah kondisi tersebut.

Bahasa sampai saat ini juga menjadi kendala setiap Mahasiswa Indonesia dalam bergaul dengan masyarakat setempat. Bahkan ada beberapa mahasiswa yang sampai tahun kedua atau ketiga belum bisa berkomunikasi lancar walaupun hanya dengan ‘ammu atau kumsari atau rayyis. Lalu bagaimana bisa dia memahami dosen ketika kuliah, atau ulama ketika talaqqi atau khutbah?

Pemaparan diatas semoga dapat membuka mata hati kita agar selalu berusaha memperbaharui niat, sudah banyak pengalaman yang didapat selama beberapa tahun disini. Tanpa mengetahui, berapa lama lagi bisa hidup di Kairo ini. Banyak cara yang dapat kita lakukan untuk sekedar menjadikan Mesir sesuai dengan yang kita dambakan, kuncinya terletak pada kemauan dan tekad masing-masing.

Setidaknya generasi tahun ini merupakan generasi pembaharu dalam lingkup sederhana, lingkup kekeluargaan. Cukuplah para kakak-kakak kelas (senior) yang menjadi korban keganasan Kairo. Adik-adik mahasiswa baru yang masih suci, janganlah terpengaruh dengan segala macam godaan, tetap pertahankan tujuan awal, sebagai thâlibul ilmi, jadikan Mesir seperti yang anda inginkan. Kalau bisa, salurkan juga semangat-semangat kalian kepada kami, sebagai mahasiswa lama. Sehingga pada saatnya nanti, label alumni al-Azhar yang kita sandang, bisa menjadi kebanggaan dan bukan sebagai beban. P

Sorry, the comment form is closed at this time.

 
%d blogger menyukai ini: