Catatan Akhir Kuliah

Mystery Of The Nile

Dari Nisfu Sy’aban Hingga Tarawih

Posted by hafidzi pada 11 September 2006

 

Biasanya dalam ritual Nisfu Sya’ban yang sering diperdebatkan adalah: pertama, permasalahan pengkhususan hari untuk beribadah. Kedua, dalil sholat khusus Nisfu Sya’ban, juga dalil-dalil yang tak terdapat di sunnah dalam ritual membaca istigfar, tasbih, dan doa-doa itu dengan hitungan tertentu. Kedua-duanya dianggap bid’ah dholâlah karena tak berdasar dari syariat.

Yang pertama, mengenai pengkhususan ibadah di hari tertentu: di malam Nisfu Sya’ban yang sudah dimulai sejak terbenamnya matahari hari 14 Sya’ban. Apakah ada larangan dalam teks agama tentang pengkhususan hari untuk beribadah? Atau, apakah mereka yang melakukan ritual nisfu Sya’ban meniatkan pengkhususan itu? Tentu, harus ditentukan dulu maksud pengkhususan itu. Jika yang dimaksud adalah mengkhususkan ibadah dengan amalan tertentu tanpa meninggalkan ibadah wajib yang lain maka dalam al-Qur’an tak ditemukan dalil yang mengharamkan pelarangan pengkhususan yang demikian. Secara umum Allah Swt. menyuruh untuk berbuat kebaikan dan amal sholeh, dan akan diberikan balasannya, misalnya dalam firmannya. (al-Baqarah 215, 197) (az-Zilzalah: 7) (al-Jatsiyah: 15) atau secara lebih gamblang dalam firman-Nya di Surah al-Hajj: 77, “waf’alul khaira la’allakum tuflihûn.” (kerjakanlah kebaikan itu, pasti kamu beruntung). Ayat terakhir ini adalah suruhan untuk melakukan kebaikan secara umum.

Jika dilihat dalam as-Sunnah juga tak terdapat hadist yang melarang manusia untuk mengkhususkan ibadah dalam suatu kesempatan atau waktu, bahkan dalam kesempatan tertentu terdapat ibadah-ibadah tertentu dengan rangkaian waktu yang kesempatan yang tertentu juga: sebutlah seperti sholat Dhuha (HR. Muslim dalam Sholat Musafir, Ahmad dalam Musnad, Baihaqi dalam Sunannya) dll. Pada bulan Sya’ban, Nabi Muhammad Saw. puasa hampir di seluruh

harinya (HR. Bukhari dalam Kitab Shiyam: 1969, Imam Ahmad dalam Musnad: 165/6, an-Nasai dalam Sunan: 206/3). Hal ini dikarenakan pada bulan Sya’ban seluruh amal perbuatan itu diangkat ke langit.[i]

Meski dengan pengertian pengkhususan ibadah yang sudah jelas di atas, kalangan yang tak setuju dengan ritual Nisfu Sya’ban mengatakan bahwa pemasalahannya adalah tak ada teks al-Qur’an atau as-Sunnah yang menyuruh kita untuk membaca dan mengerjakan amalan-amalan tertentu pada hari itu, sehingga ritual itu dianggap bid’ah dholâlah. Mari kita telisik lebih dalam pengertian bid’ah.

Jika suatu ibadah, dalam hal ini bacaan-bacaan zikir, istigfar yang dibaca pada malam Nisfu Sya’ban- tidak terdapat secara gamblang di dalam al-Qur’an atau as-Sunnah, harus dilihat lebih mendalam, tak bisa langsung dikatakan bid’ah dholalah. Ada beberapa pendekatan yang menarik untuk ditelisik, di antaranya pendekatan Semantik Teks: hadist yang melarang kita untuk melakukan muhdastatil umur (hal-hal yang baru). Alif lam di sini menerangkan bahwa al-umur disini sudah jelas, yaitu yang tak berdasar dari al-Qur’an, Sunnah, atau ijma’. Hal ini dikuatkan oleh penjelasan Imam Nawawi dalam hadist, kullu muhdatsatin bid’ah wa kulla bid’atin dholâlah wa kullu dholâlatin fi an-Nâr (setiap yang baru itu bid’ah dan setiap yang bid’ah itu sesat dan setiap kesesatan itu dalam neraka) (HR. Muslim: 2002, an-Nasai: 1577, Ibnu Majah: 45, Imam Ahmad: 126/4) bahwa bid’ah di sini maksudnya adalah secara syar’i karena di dalam al-Quran terkadang digunakan kata “Kull” (setiap) dengan fungsi pengkhususan sesuatu (takhsish), misalnya pada QS 16: 79.

Kesimpulannya, bid’ah terbagi dua: secara bahasa dan secara syar’i. Bid’ah secara bahasa dalam kenyataannya bisa didudukkan pada 5 hukum syar’i. Sedangkan bid’ah yang secara syar’i itu jelas

dilarang. Garis pemisahnya dua macam: 1. Ada asal atau sandaran dalam syariat 2. Tidak bertentangan sedikitpun dengan hukum Allah.[i] Jika dikaitkan dengan ritual Nisfu Sya’ban maka tentu saja tak disebut bid’ah yang haram dilakukan, karena pokok ibadah yang dilaksanakan berdasar kepada sunnah, seperti membaca surah Yasin, sholat Tasbih, membaca istigfar serta doa. Permasalahan “pengkhususan” adalah bid’ah dholalah, tentu saja tidak beralasan karena ada dasarnya dari syariat seperti yang diriwayatkan oleh Imam al-Mundziri: “Man ahyâ lailata al-eîd wa lailatan nishfi min sya’bân lam yamût qolbuhû yauma tamutu al-qulûb” (barang siapa yang menghidupkan malam hari raya, dan malam nisfu Sya’ban dengan ibadah, tidak akan mati hatinya pada saat hati yang lain mati), atau yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad Ra., bahwa Allah mengampuni penghuni bumi kecuali dua orang: Musyrik dan Musyâhin (punya kebencian terhadap muslim yang lain).[ii]

Kemudian penilaian pengkhususan ibadah juga sangat sulit. Penilaian zahir perbuatan yang merupakan titik tumpu penilaian akan terjerumus dalam tajassus, jika tak dilandasi alasan syar’i. Dalam konteks ini, belum ada polling di masyarakat kita secara umum untuk setidaknya menjawab pertanyaan: Apakah Anda hanya beribadah pada malam nisfu Sya’ban ini?, agar kita tak terjerumus dalam vonis sepihak. Hemat penulis, rata-rata orang yang melakukan ritual Nisfu Sya’ban adalah orang yang gemar beribadah, meski ikut-ikutan anjuran kiayi yang mereka percayai. Lagi pula di dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh at-Thabari Rhm. dikatakan bahwa Allah Swt. memiliki nafahât[iii] dalam hari-hari setahun itu, maka berusahalah menggapainya, semoga salah satu nafahat itu diberikan kepadamu maka kamu tak akan celaka selamanya. Hadist ini bermakna bahwa secara umum, Allah memiliki nafahat yang tak diketahui manusia kapan kedatangannya, sehingga bisa dikatakan khabar atau hadits yang terdahulu berfungsi sebagai penjelas atau penjabar hadist ini.

Bagaimana pun lagi, lebih baik masyarakat sibuk dengan amalan ritual ini daripada disibukkan dengan gemerlapnya keduniaan. Barangkali karena ini juga dalam konteks fadhail a’mal, Imam Nawawi dalam al-Adzkâr-nya mengutip pendapat ulama dari kalangan muhadditsîn dan fuqahâ yang membolehkan ber’amal dengan hadist Dhoif selama bukan maudhu’.[iv] Meski demikian, kita tak akan menafikan bahwa jangan sampai adab berinteraksi bersama Allah tercoreng hanya karena beribadah di malam Nisfu Sya’ban an sih, atau waktu-waktu yang lain, dan meninggalkan atau kurang ibadahnya di hari-hari yang lain, karena sifat ubûdiyyah (kehambaan) harus dibuktikan secara terus menerus. Bisyr Rhm. pernah ditanya tentang segolongan kelompok yang beribadah dan bersungguh-sungguh di bulan Ramadhan Saja, beliau menjawab: “Malang sekali! Mereka belum mengenal Allah kecuali (hanya) di Ramadhan. Sejatinya orang soleh itu beribadah dan bersungguh-sungguh dalam setahun penuh.”

Permasalahan kedua, hitungan bilangan tertentu amalan pada malam nisfu Sya’ban itu. Untuk menjawab itu mari kita selami lebih dalam hikmah adanya “pembatasan” hitungan dalam sholat, tasbih, tahmid dan takbir pasca sholat dst. Kasusnya akan hampir serupa dengan hitungan membaca Yasin 3 kali, tasbih Nabi Yunus As. yang 2375[v] itu dan amalan ‘rangkaiannya’ yang dibaca pada malam Nisfu Sya’ban. Dalam hal ini rupanya Allah Swt. meletakkan hitungan-hitungan tertentu dalam ritual-ritual tertentu juga. Jika dihitung-hitung dengan logika maka mungkin akan sulit untuk mencari rahasia di balik hitungan tersebut, kecuali yang dilontarkan adalah prediksi-prediksi saja. Misalnya: Subuh yang dua rakaat itu agar otot jasmani tidak shock dengan gerakan yang melebihi dua rakaat. Sekali lagi ini adalah akal-akalan yang menunjukkan betapa ilmu manusia itu sangat terbatas.

Saya katakan ada hubungan secara tak langsung dengan hitungan dalam sholat dan teks yang jelas di atas maksudnya, secara induktif (istiqrâi) bisa dikatakan bahwa ada hikmah penetapan jumlah-jumlah hitungan dalam ritual Islam kita.

Barangkali di dalam referensi tertentu akan didapatkan mengapa ada bilangan tertentu dalam zikir itu. Dan dibutuhkan penelusuran sumber-sumber otentik untuk lebih dalam mengetahui latar belakang hitungan-hitungan dalam suatu amaliah, dalam hal ini Nisfu Sya’ban.[vi] KH M. Zaini Abdul Gani (2005), menjelaskan bahwa hitungan-hitungan itu fungsinya seperti kunci pembuka pintu; dengan hitungan tertentu maka pintu (tujuan dan fadhilah) akan terbuka. Dalam kesempatan lain, Drs. H. Mursyidi (2001) mengatakan bahwa hitungan-hitungan dalam ritual keagamaan yang belum ada nash jelasnya dalam sumber primer merupakan hasil ijtihad dan ikhtibar (percobaan) ulama yang biasanya sudah terbukti ampuh. Dengan gambaran kedua ini bisa dikatakan bahwa jumlah hitungan tertentu bisa merupakan hanya merupakan bid’ah mahmûdah (bid’ah dalam bahasa), yang kasusnya akan mirip ijtihad hitungan rakaat sholat Tarawih di bulan Ramadhan.

Bagaimana pun meski dalam konteks di luar permasalahan di atas, zikir memiliki etika. Syaikh Abdul Qadir Isa (1991) mengatakan bahwa tak sepatutnya bagi seorang sâlik (yang berjalan menuju Allah) bahwa wiridnya terbatas dengan hitungan yang disebutkan dalam suatu thariqat, namun hendaknya ia menambahnya. Orang yang menuju Allah, awalnya seperti anak kecil, ketika telah dewasa maka makanannya tentu juga bertambah.[vii]

Tarawih

Perbedaan ulama seputar jumlah rakaat sholat Tarawih akan kita bahas dalam beberapa poinnya: 1. Argumentasi 11 Rakaat (8 tarawih dan 3 rakaat witir); dan 2. Argumentasi 23 Rakat dan Argumentasi 36 Rakaat.

Yang pertama, biasanya berargumen dengan hadist Shoheh dari Sayyidah Aisyah Ra:”Mâ kâna Rasûlullâh Sallallâhu ‘alaihi wa sallam yazîdu fî ramadhâna wa lâ ghairihi ‘ala ihda asyara rak’atan” (Rasulullah Saw. tidak menambah dalam Ramadhan dan selainnya lebih dari 11 rakaat). Jika ditilik lebih dalam, sebenarnya hadist ini berbicara tentang sholat witir Rasulullah, sehingga tak bisa dijadikan landasan untuk sholat Tarawih.[viii]

Yang kedua, bagi mereka yang mengerjakan Tarawih lebih dari 11 rakaat biasanya mendasarinya dengan firman Allah dalam surah al-Hajj ayat 77, Hadist: Sholâtullail matsnâ-matsnâ (HR Bukhari), dan Imam Muslim meriwayatkan: “As-Sholâtu khairu maudhûin fa man syâ istaqalla wa man syâ istaktsara” (Sholat itu tempat terbaik, yang ingin menyedikitkan (rakaatnya) silahkan, yang sebaliknya juga silahkan). Menurut Syaikh Said bin Muhammad Baisyan, ketentuan 20 rakaat itu dilandaskan kepada sebuah hadist dhoîf dan konsensus sahabat Nabi. Sedangkan hitungan 36 rakaat dikhususkan (kebolehannya) hanya bagi penduduk Madinah al-Munawwarah.[ix] Karena dua puluh rakaat sholat Tarawih itu memiliki lima waktu senggang istirahat (tarwîhah). Dulu, penduduk Mekkah tawaf 7 putaran setelah tiap dua kali masa senggang itu. Agar setidaknya menyamai mereka, penduduk Madinah (bersama fuqaha mereka) menjadikan waktu tarwîhah-mereka setelah satu minggu melaksanakan sholat Tarawih.[x]

Bisa disimpulkan, argumentasi 11 rakaat sholat Tarawih adalah lemah, jumlah 36 rakaat pun tak mungkin bisa dilakukan di Indonesia, termasuk Kalimantan karena perbedaan illat dan konteks hukumnya. Untuk jumlah 20 rakaat sholat Tarawih di tempat kita, sejatinya tak melupakan bahwa menurut ulama, yang lebih afdhal-nya adalah membaca al-Qur’an bukan mengulang-ulang surah al-Ikhlas saja.[xi] P


[i] Imam Syafi’i Radhiyallâhu ‘anhu– dinukil kembali oleh al-Habib Ali al-Jufri dalam Ma’âlim as-Sulûk, hlm. 60 (Beirut: Dar al-Ma’rifah, 2003). Karena ini juga pembagian bid’ah kepada yang ibadah dan non ibadah tidak memiliki landasan yang cukup kuat menurut penjelasan tidak langsung semantik teks hadist yang bisa dipahami: bahasa dan syar’i (menurut Nabi). Wajar dalam Ushul Fiqh ditemukan terma mantûq dan mafhûm.

[ii] Dalam riwayat Ibnu Ishaq dari Anas Bin Malik Ra, bahwa yang dibebaskan dari neraka sejumlah hitungan rambut domba, kecuali 6 golongan: mudammin khamr, ‘âqq liwalidaihi, mushirr’ ala az-Zinâ, mushârim, mushawwir dan Nammâm)

[iii] Nafahât bentuk plural dari nafhat, salah satu maknanya secara bahasa: tiupan yang wangi . (ar-Razi, Muktâr as-Suhhâh, Hlm. 444 {Damaskus: Darul Basyair, 1997} ).

[iv] An-Nawawi, al-Adzkâr, hlm. 15 (Kairo: Dar at-Tauzi’ wa an-Nasyr al-Islamiyah, 2002)

[v] La ilâha illâ Anta subhânaka inni kuntu min az-zhâlimin.

[vi] Seperti Bustanul Wâidzhin wa Riyâdhus Sâmi’in karya Ibnu al-Jauzi, Mukâsyafatul Qulub karya Imam Ghazali, Lathâiful Ma’ârif karya Ibnu Rajab al-Hanbali, al-Jawâhirul Khams karya Muhammad Khatiruddin, Mafâtihul Jinan karya Syaikh Abbas al-Qummi, Abwab al-Faraj karya Dr. Muhammad bin ‘Alawi, Ad-Durrun Nazhîm karya Abdullah bin As’ad al-Yafi’I dan Ithâfus Saniyyah karya Imam Manawi dll.

[vii] Abdul Qadir Isa, Haqâia ‘an at-Tasawwuf, hlm. 190 (Halab:Dar al-Irfan, 2001)

[viii] Coba lihat aL-Iqnâ’ karangan al-Khatib as-Syarbini, hlm. 106 (Kairo: Musthafa al-Babi al-Halabi: 1940)

[ix] Busyrâ al-Karîm bi Syarhi Masâilit-Ta’lîm, Vol: 1 hlm. 114 (Kairo: Musthafa al-Babi al-Halabi: 1948)

[x] Al-Khatib as-Syarbini, Op.cit, hlm.107. Melakukan 36 rakaat bagi selain penduduk Madinah dilarang karena penduduk Madinah memiliki kedudukan mulia dengan hijrah dan meninggalnya Rasulullah Saw. di sana.

[xi] Ibid, hlm.107

* Pencinta Kajian Kultural Keagamaan.


[i] Imam Abi Zakariya Yahya an-Nawawi, Riyâdhus-Shâlihîn, hlm. 340. (Cairo: Darus Salam, 1999). Hadit diangkatnya amal di bulan Sya’ban diriwayatkan oleh an-Nasai dari sahabat Usamah bin Zaid Ra.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: