Catatan Akhir Kuliah

Mystery Of The Nile

“Character Building” dan Pendidikan Kita

Posted by hafidzi pada 11 September 2006

Posted by anwar on Jul 28, ’06 2:45 AM for Azhari

Ungkapan character building kini sudah klise kosong, nyaris tidak
bermakna. Diucapkan para politisi, birokrat pendidikan, pemimpin
organisasi pendidikan, ungkapan ini tidak meninggalkan bekas apa-apa.

Ketika ungkapan ini diucapkan oleh Bung Karno dulu, oleh Mohamad Said
dari Taman Siswa, oleh St Takdir, oleh Soedjatmoko, ungkapan ini
meninggalkan bekas yang mendalam di hati saya. Ungkapan ini
menghidupkan harapan besar dalam hati saya.

Kini, kalau saya mendengar orang mengucapkan kata-kata ini, ia berlalu
begitu saja, tidak mampir di otak atau hati saya. Apakah character
building atau pembinaan watak kini sudah bukan masalah lagi di Indonesia?

Ketika Bung Karno mengucapkan kata-kata ini, rasanya diucapkan dalam
konteks politik. Jadi yang dimaksud ialah watak bangsa harus dibangun.
Tetapi ketika kata-kata ini diungkapkan oleh para pendidik, dari Ki
Hajar Dewantara hingga Mohammad Said, konteksnya adalah pedagogik.
Yang dimaksudkan ialah pendidikan watak untuk para siswa, satu demi
satu. Bagaimana cara mendidik anak di sekolah agar selain menjadi
pintar juga menjadi manusia berwatak?

Pendidikan watak

Jika diuraikan seperti ini, masalah character building masih merupakan
suatu isu besar, bahkan amat besar. Semua kebobrokan yang kita rasakan
kini lahir dari tidak adanya watak yang cukup kokoh pada diri kita
bersama. Watak bangsa rapuh dan watak manusia Indonesia mudah goyah.
Saya kira jumlah orang yang jujur masih cukup banyak di Indonesia,
tetapi mereka tidak berdaya menghadapi kelompok kecil manusia
Indonesia yang korup, yang mempunyai kekuasaan atau membonceng pada
kekuasaan.

Jadi apa yang salah dengan pendidikan watak kita? Banyak sekali!
“Pendidikan watak” diformulasikan menjadi pelajaran agama, pelajaran
kewarganegaraan, atau pelajaran budi pekerti, yang program utamanya
ialah pengenalan nilai-nilai secara kognitif semata. Paling-paling
mendalam sedikit sampai ke penghayatan nilai secara afektif.

Padahal, pendidikan watak seharusnya membawa anak ke pengenalan nilai
secara kognitif, penghayatan nilai secara afektif, akhirnya ke
pengamalan nilai secara nyata. Dari gnosis sampai ke praksis, istilah
pedagogiknya.

Untuk sampai ke praksis, ada satu peristiwa batin yang amat penting
yang harus terjadi dalam diri anak, yaitu munculnya keinginan yang
sangat kuat (tekad) untuk mengamalkan nilai. Peristiwa ini disebut
conatio. Dan langkah untuk membimbing anak membulatkan tekad ini
disebut langkah konatif.

Jadi dalam pendidikan watak, urut-urutan langkah yang harus terjadi
ialah langkah pengenalan nilai secara kognitif, langkah memahami dan
menghayati nilai secara afektif, dan langkah pembentukan tekad secara
konatif. Ini trilogi klasik pendidikan. Oleh Ki Hajar diterjemahkan
dengan kata-kata cipta, rasa, karsa.

Berdasar analisis ini pendidikan watak pada dasarnya adalah membimbing
anak untuk secara sukarela mengikatkan diri pada nilai. Rumusan
Profesor Phenix ialah “voluntary personal commitment to values”.
Dilihat dari sudut ini tidak akan terlalu sukar untuk mengetahui
kesalahan-kesalahan kita dalam menyelenggarakan pendidikan watak.

Pelaksanaan

Kini, lihatlah cara kita melaksanakan pendidikan watak, terutama dari
segi evaluasi. Mengetahui kemajuan anak dalam aspek kognitif relatif
itu mudah. Nilai-nilai apa saja yang dikenal dan dipahami anak
mengenai berbagai hal dalam kehidupan? Nilai-nilai tentang pergaulan
sosial, tentang etos kerja, tentang kejujuran? Apa saja yang telah
diketahui dan dipahami anak tentang berbagai jenis nilai tadi?
Bagaimana mengevaluasi keberhasilan anak dalam mengenali dan memahami
nilai-nilai ini?

Jelas tidak dengan tes multiple choice (pilihan ganda) semata.
Bagaimana menilai kemajuan aspek afektif anak? Observasi dan catatan
hasil observasi adalah cara terbaik. Dan menilai kemajuan anak dalam
aspek praksis juga harus dilakukan dengan observasi yang sistematis.

Dilihat dari segi ini, kita tidak dapat menghindari kesan, pendidikan
watak di sekolah kita benar-benar amburadul. Saya mendapat kesan, kita
tidak sungguh-sungguh berusaha melaksanakan pendidikan watak. Rupanya
tidak ada tempat dalam kurikulum sekolah Indonesia untuk melaksanakan
pendidikan watak yang sebenarnya. Para guru bertanya, untuk apa
menghabiskan waktu dan tenaga untuk pendidikan watak? “Soal watak kan
tidak akan ditanyakan dalam ujian nasional!”

Kesan ini diperkuat cara penyelenggaraan ujian nasional. Hanya tiga
mata pelajaran yang diujikan, yaitu Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris,
dan Matematika. Ketiga hal ini memang penting, tetapi siapa berani
mengatakan pendidikan watak tidak penting? Kiranya tidak ada! Namun,
ketentuan atas ketiga pelajaran menentukan lulus-tidaknya seorang
siswa dari ujian nasional berarti pemerintah memandang pendidikan
watak sama sekali tidak penting. Ujian nasional telah mengubur
pendidikan watak.

Mungkin ada yang mengatakan, mengevaluasi hasil pendidikan watak
dengan baik tidak mungkin dilakukan secara nasional, tetapi harus
secara lokal. Saya setuju! Tetapi kenyataannya, penilaian lokal tidak
diperhitungkan sama sekali. Kesimpulan saya, Departemen Pendidikan
Nasional (Depdiknas) menganggap pendidikan watak tidak penting. Itu
hanya suatu komoditas politik yang tidak perlu dianggap terlalu
serius. Selain itu, Depdiknas menganggap para guru yang tiap hari
mendampingi anak tidak memiliki informasi yang sah tentang
perkembangan murid, termasuk perkembangan wataknya.

Kini kita harus menentukan secara definitif, pendidikan watak di
sekolah itu penting atau tidak bagi masa depan bangsa dan negara?
Kalau penting, mari ditangani bersama dengan baik. Kalau kita
menganggapnya tidak penting lagi, karena sudah ada pelajaran agama,
kewarganegaraan, dan budi pekerti, ya sudah! Jangan ngomong lagi
tentang pendidikan watak. Jangan ngomong tentang nation and character
building.

Mochtar Buchori Pendidik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: