Catatan Akhir Kuliah

Mystery Of The Nile

AGAMA MENJADI CANDU

Posted by hafidzi pada 11 September 2006

Masih ingat adagium lama yang dilontarkan oleh Karl Marx atau Sigmund Freud? Kalimat pendek yang sempat mengguncangkan dunia antara yang mengiyakan dan membantahnya habis-habisan hingga sekarang? Agama adalah candu masyarakat. Apakah memang agama itu diturunkan sebagai candu atau manusia yang menerima agama itu sendiri yang telah menjadikannya sebagai candu. Seterusnya apakah lontaran kalimat ini benar atau salah, bagi saya terserah anda masing-masing menilainya tergantung dari sudut mana anda memandangnya.

Namun akhir-akhir ini hati kita diguncang rasa keprihatinan yang mendalam setelah mendengar berita yang sedang gencar dari kabar-kabar tersiar tentang sekelompok orang yang dengan jumawa berdiri di atas mimbar di tengah lapang mengumumkan kepada dunia, kamilah yang paling benar.. dan kamilah orang yang pasti menghuni surga.

Tidak ada masalah jikalau hanya terbatas itu kemudian masing-masing mereka kembali kepada kehidupannya masing-masing sebagai manusia sebagaimana layaknya manusia-manusia yang lain. Hidup di bawah langit yang sama dan berpijak di atas bumi yang sama. Akan tetapi, persoalan menjadi lain ketika kelompok itu kemudian secara bergerombol membabat habis siapa saja yang mereka anggap berbeda, dan mereka tuduh telah keluar dari jalur yang mereka gariskan sendiri. Mereka menghancurkan siapa saja yang tidak sejalan dengan mereka, seperti sedang berada di tengah laga pertempuran. Itulah yang dalam beberapa hari terakhir ini kita saksikan sedang terjadi di negri kita. Sekelompok orang menyerang markas Jamaah Ahmadiyah di Kampus Mubarak, Parung, Bogor, dan rentetan serangan lainnya di berbagai daerah.

Kita tidak sampai mengerti sejak kapan ada sekelompok orang mengklaim diri mereka sebagai orang yang paling berhak atas Islam. Lebih dari itu, mereka tidak hanya mengklaim Islam yang benar saja, tapi juga bertindak sebagai hakim yang berhak memutuskan nasib dan keyakinan orang lain. Entah sejak kapan mereka mengangkat diri mereka sebagai wakil Tuhan di dunia ini.

Peristiwa ini semakin menambah deretan masalah di negri ini yang seperti tidak akan pernah habis-habisnya. Kita sendiri rupanya yang membuat masalah demi masalah itu. Padahal masih sekian banyak masalah yang sampai kini tidak mendapatkan penyelesaian yang berarti. Busung lapar yang terus melanda anak negri hingga ke pelosok. Anak-anak yang bunuh diri hanya karena beban hidup atau tidak mampu membiayai pendidikan. Janin yang harus mati di rahim ibunya hanya karena dokter-dokter RS yang “manusia” itu tidak mau menolong disebabkan pasien yang tidak punya uang. Dan sederetan masalah-masalah yang sejak lama tak pernah bisa teratasi hingga kini. Dan sekarang, masalah-masalah itu terus kita tambah dengan tangan-tangan kita sendiri, dengan segala keangkuhan dan kesombongan manusia.

Sudah tentu pro dan kontra bermunculan di mana-mana. Mulai dari forum yang bersifat resmi sampai dengan forum-forum informal dan bahkan postingan-postingan yang bersifat pribadi memberikan suara dan pendapatnya terhadap apa yang telah terjadi. Tidak lebih dari Ulil Abshar Abdallah, JIL dan beberepa elemen Aliansi yang getol mengampanyekan gerakan kebebasan memilih dan berkeyakinan, mengecam kejadian itu. Mereka menuding fatwa MUI sebagai biang keladi penyerangan dan kekerasan itu.

Dari bagian yang lain muncul dukungan yang mengatakan bahwa tuduhan dan kecaman kelompok pertama terlalu berlebihan. Saya yakin, para pembaca pasti bisa mengetahui lebih jelas kelompok kedua ini. Kelompok kontra pluralis atau lebih jelas lagi, kelompok yang memang akan terus berseberangan dengan JIL dan sejenisnya. Dua kelompok yang tidak akan pernah akur dalam banyak masalah apa saja, lebih dari tidak akurnya anjing dan kucing dalam istilah pribahasa dan cerita rakyat. Apakah kelompok kedua ini sadar kalau mereka secara tidak langsung telah memberikan pembelaan dan justifikasi terhadap penyerangan itu.

Terlepas dari perdebatan pro dan kontra itu, bisakah masing-masing kita merenung sejenak untuk melihat kenyataan yang lebih pahit, membuka nurani kita lebih luas lagi kepada Jamaah Ahmadiyah yang telah menjadi korban penyerangan itu. Bagaimanapun juga mereka adalah manusia yang berhak untuk hidup dan memilih sebagaimana manusia lainnya. Kabar yang kita dengar, penyerangan itu tidak hanya menyakitkan perasaan tapi juga mengarah pada bentuk intimidasi, teror, dan bahkan pengrusakan secara fisik. Bagaimana dengan keluarga mereka, tempat tinggal mereka, anak-anak mereka yang ketakutan, waswas, dan tidak nyaman dalam menjalani hidup. Mereka seperti terdakwa di tempat mereka sendiri, di rumah mereka sendiri. Kemanusian mereka menjadi terusik hanya karena mereka manusia.

Dan lebih dari itu, terlepas dari perdebatan pro dan kontra itu, sekalipun seluruh manusia di dunia ini menudingkan tangan kepada Jamaah Ahmadiyah sebagai aliran sesat sejuta sesat, maka intimidasi, teror, penyerangan fisik, perusakan, dan penghancuran sama sekali tidak bisa ditolerir dengan alasan apapun dan dengan dalih apapun. Apa yang telah mereka lakukan murni sebuah tindakan kriminal yang seharusnya diproses secara hukum, khususnya siapa sebenarnya yang berada dibalik peristiwa itu. Seyogyanya hal-hal seperti ini harus diusut tuntas sehingga tidak menimbulkan ancaman-ancaman serupa yang merusak tatanan masyarakat kita.

Hal yang lebih menyentuh keprihatinan saya yang paling dalam, beberapa hari terakhir ini setelah peristiwa itu banyak dari kawan-kawan, dengan rasa keprihatinan dan penyesalan yang dalam, lewat berbagai media yang tersedia, yang kemudian menyampaikan kepada saya, “Man, ternyata hidup ini lebih indah tanpa agama.” Saya tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dengan kepala tertunduk sedih saya hanya berkata dalam hati, “Agama tidak pernah menyesal turun ke bumi. Hanya manusia saja yang telah membuat agama itu menjadi candu.. yang membuatnya mabuk dan tidak bisa membedakan lagi, sehingga merasa dan beranggapan dirinyalah agama dan agama itu adalah dirinya sendiri.” P

Oleh: Syaifurrahman Barito, Lc*

*Redaktur lepas Pahabaran PAPADAAN

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: