Catatan Akhir Kuliah

Mystery Of The Nile

Fikih Perlu Etika

Posted by hafidzi pada 10 September 2006

 

SERINGKALI kita masih menemukan perbedaan fikih (ilmu hukum Islam praktis yang berdasarkan ijtihad) yang berubah menjadi laknat. Laknat, karena ia dijadikan dalih untuk membunuh karakter pihak yang berbeda. Maka, kita akan mudah menemui kata-kata kekafiran, bid’ah dan semacamnya membakar ruang kemasyarakatan kita. Namun, demikiankah masyarakat kita, yang notabene Ahl al-Qiblat itu, berbeda? Mengapa seringkali kita temukan perbedaan yang tidak menjadi rahmat, tapi malah menjadi azab perpecahan?

 

Sejatinya, perbedaan fikih itu menjadi horison dan mozaik indah kehidupan. Prof. Dr. Thol’at Muhammad ‘Afifi (2005) menyebutkan sebab-sebab utama lahirnya perbedaan tersebut : (1) perbedaan pemahaman terhadap nash Alqur’an seperti pada muhkam-mutasyaabih, qath’i-zhanni, shariih-muawwal. (2) perbedaan penerimaan praktik suatu hadist, pemahaman, dan cara konvergensi dua hadist yang berbeda secara eksplisit. (3) petanda bahasa, seperti musytarak (homonim). (4) faktor perbedaan tingkat kemampuan mujtahid dalam memformulasi hukum. Jelas semua faktor di atas amat logis dan manusiawi.

Perbedaan fikih ini juga, di sisi lain, menjadikan Islam amat kaya dengan khazanah hukum. Ia juga, pada dasarnya, adalah rahmat dan kemudahan dalam kehidupan kemanusian. Khalifah bijaksana, Umar ibn Abdul Aziz Radhiyaallahu’ ahnu berkata, “Saya tidak akan gembira jika para sahabat Rasulullah Saw. tidak berbeda (pandangan). Jika saja pendapat mereka itu satu, maka masyarakat (luas) tentuya akan kesulitan. Sedangkan mereka adalah para imam teladan…”

Karena inilah, kita akan menemukan kisah teladan dalam kehidupan sahabat Rasulullah Sallahu’alihi wasallam. Imam al-Baihaqi rhm. meriwayatkan dari Sahabat Anas Radiyallahu’ anhu fenomena indah kehidupan mereka: “Sungguh, ketika kami, para sahabat Rasulullah Saw. melakukan perjalanan ada yang dalam keadaan berpuasa; ada yang dalam kondisi berbuka. Ada pula yang men-qashar sholatnya, ada juga yang tidak.Namun satu sama lain tidak menyindir, atau mencela yang lain.”

Setidaknya ada empat etika ketika mengadakan dialog seputar permasalahan ikhtilaf ulama : (1) tidak mengharuskan orang lain mengikuti pendapat yang diadopsinya; (2) tidak mengingkari sesuatu yang masih dalam kerangka ijtihad-able; (masih masuk dalam koridor ijtihadiyah) (3) tidak takabbur; jumawa untuk kembali kepada kebenaran; (4) berusaha menjauhi hal-hal yang (kemungkinan besar) menimbulkan fitnah dan tindakan refresif.

Hal-hal di atas tidak hanya sekadar teori, namun dibuktikan oleh gugus otoritas ulama muslim sepanjang sejarah. Bahkan dalam perjalanannya, ada tiga fenomena mengharukan yang patut diteladani oleh siapapun: (1) saling memuji, satu sama yang lain. (2) saling menghormati, dan (3) saling mendoakan. Terlepas dari perbedaan pendapat mereka, biografi Imam Abu Hanifah ra, Imam Maik ra., Imam Syafii dll. mendeskripsikan kenyataan ini.

Ta’ashub
Para ulama itu juga sangat menentang ta’ashub buta (kefanatikan sehingga menghinakan pendapat yang lain). Bahkan Imam Shaleh ibn Muhammad al-‘Umari mensinyalir bahwa kefanatikan seperti ini dimanfaatkan menjadi strategi penjajahan atas negeri-negeri muslim. (lihat: Iiqaazh Himam Uli al-Absaar lil Iqtidaa bi sayyidi al-Muhaajiriin wa al-Ansaar, hlm. 45)

Tesis al-Umari ini tentu bukan tanpa alasan. Fenomena friksi antar Syi’ah dan Sunni saat ini di Irak, misalnya, secara cerdas diekplorasi oleh pihak-pihak yang tidak senang dengan kebersamaan kaum muslimin. Di sisi lain, kefanatikan buta juga berdampak terhadap penerimaan (acceptablity) dan produktifitas dakwah Islam.

Jelas dibutuhkan kembali usaha-usaha revitalisasi persatuan umat. Al-Majma’ al-Aalamii li-at-Taqriib baina al-Madzaahib al-Islaamiyyah (The World Forum for Proximity of Islamic School of Thought) dalam muktamar ke-19-nya di Teheran pada tanggal 20-22, Agustus 2006 lalu menghasilkan 10 prinsip dasar yang perlu dihidupkan kembali, di antaranya: (1) persatuan umat Islam, kapan dan di manapun berada; (2) pentingnya penegakan hak asasi manusia yang berlandaskan pada landasan dan aksioma Syariat Islam dan Undang-undang Internasional; dan (3) berpegang kepada prinsip keberagaman; saling menghormati pendapat diiringi dengan pencarian titik-titik persamaan serta menggencarkan dialog antar mazhab, agama, dan peradaban. Dari sini diharapkan lahir kesepahaman yang bermanfaat luas.

Adalah tugas bersama (al-‘amal al-musytarak) untuk kembali menghidupkan persatuan dan rasa cinta. Barangkali cara awalnya adalah menahan diri untuk tidak mencari hual (masalah) perihal praktik keagamaan yang masih memiliki dasar dan tidak merupakan kesepakatan ulama (al-Mukhtalaf fiih); menghindari kata-kata dan sikap cela terhadap orang lain yang berbeda pandangan tentang hukum, selama tidak bertentangan dengan nash (teks jelas) Al-Qur’an, Sunnah maupun Ijma’ Ulama; mengembangkan dialog/silaturrahmi keagamaan melalui forum-forum tertentu.

Dus, inilah salah satu karakteristik Ahlus-Sunnah wal-Jamaah : mereka yang berpegang pada Sunnah Rasulullah Shallalahu’alaihiwa sallam, para Sahabat, serta menjaga persatuan dan kesatuan ummat. Wallahu’alam.

 

Oleh Muhammad Hikam Masrun

Universitas Al Azhar Cairo, Mesir

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: