Catatan Akhir Kuliah

Mystery Of The Nile

Hukum Talfiq…..boleh ngga???

Posted by hafidzi pada 16 Oktober 2006

Sebenarnya ini permintaan dari teman saya satu angkatan, yang pengen tahu boleh ngga make talfiq (mencampur dua pendapat dan mengambil pendapat yang lebih mudah) dalam melakukan sesuatu ibadah? ya supaya lebih memudah kan aja, begitu katanya.
Islam merupakan agama yang elastis dan toleran. Oleh karenanya, Islam senantiasa memberikan ruang gerak mudah bagi umatnya dalam menjalankan ajaran-ajarannya. Namun begitu, bukan berarti umat Islam bisa mengambil kebebasan tanpa mengenal batas. Kebebasan tetap harus berada dalam bingkai norma-norma yang telah digariskan oleh Allah dan Rasul-Nya atau paling tidak berada dibawah kendali ijtihad ulama‘ sebagai pewaris Nabi.
Sebelum membahas lebih jauh, marilah kita pahami dulu arti dari talfiq. Kata talfiq secara etimologi (jar kita bisa lugatan)memiliki arti melipat atau menggabungkan. Sedangkan secara terminologi (istilah), talfiq berarti mencampuradukkan perbuatan dalam satu qhadiah (rangkaian) Ibadah yang memiliki dari dua pendapat atau lebih, lalu pada tahap pelaksanaannya mempraktikkan sesuatu yang tak pernah dipilih dan diakui oleh imam madzhab manapun.

Agar pemahaman tentang talfiq kita lebih gamblang, ada baiknya kita ambil satu contoh talfiq. Misalnya seseorang yang berwudlu tanpa menggosok (al-dalku) dengan dalih mengikuti madzhab Syafi’i. Setelah itu, ia bersentuhan dengan perempuan tanpa bersyahwat. Lalu ia menganggap wudlu’nya tidak batal dengan berpegangan pada pendapat Imam Malik. Kemudian ia melakukan shalat, maka shalat yang ia lakukan hukumnya batal lantaran dalam wudlu’nya terdapat talfiq. Dalam arti, jika mengikuti madzhab Syafi’i, wudlu’nya sudah batal karena menyentuh wanita yang bukan mahramnya. Sedangkan, jika mengikuti madzhab Maliki wudlu’nya tidak sah karena tidak melakukan al-dalku atau menggosok. (Syarh al-Asnawi, III, 266, Tuhfah al-Ra’yi al-Sadid, V, 79).

Contoh lain dari talfiq adalah seorang lelaki menikahi seorang perempuan tanpa wali, mahar, dan saksi, karena mengikuti pendapat dari beberapa mazdhab, maka pernikahan itu dihukumi batal, sebab pernikahan tersebut menyalahi ijma’. Disamping itu, tidak ada satu madzhabpun yang berpendapat tentang bolehnya nikah model seperti itu. (Syarhu al-Tanqih, 386)

Selanjutnnya kita beralih pada wilayah praktik talfiq. Para ulama‘ fiqih sepakat bahwa ruang lingkup talfiq ini terbatas pada masalah furu‘iyah ijtihadiyah dzanniyah (cabang-cabang fiqih yang masih diperdebatkan). Sedangkan masalah ‘aqidah, iman, akhlak dan sesuatu yang mudah diketahui oleh semua muslim bukanlah wilayah talfiq. Dengan alasan bahwa ber-taqlid saja dalam hal ini tidak dibenarkan apalagi ber-talfiq
Mengenai hukum-hukum furu‘iyah yang menjadi ajang talfiq di atas, ulama‘ fiqih mengelompokkannya menjadi tiga bagian. Pertama, hukum yang didasarkan pada kemudahan dan kelapangan yang berbeda-beda sesuai perbedaan kondisi setiap manusia. Hukum-hukum seperti ini adalah hukum yang termasuk ibadah mahdhah, karena dalam masalah ibadah ini tujuannnya adalah kepatuhan dan kepasrahan diri seorang hamba kepada Allah Swt.

Kedua. Hukum yang didasarkan kepada sikap wara‘ dan kehati-hatian. Hukum-hukum seperti ini biasanya berkaitan dengan sesuatu yang dilarang Allah Swt. karena memudlaratkan. Dalam hukum ini tidak dibenarkan mengambil kemudahan dan ber-talfiq kecuali dalan keadaan dharurat. Misalnya larangan memakan bangkai. Dalam hal ini Rasul bersabda : “Segala sesuatu yang aku larang tinggalkanlah, dan segala apa yang aku perintahkan kerjakanlah sesuai kemampuanmu” (al-Bukhari, 258).

Ketiga, hukum yang didasarkan pada kemaslahatan dan kebahagiaan bagi manusia. Misanya, pernikahan, had-had dan transaksi sosial ekonomi (‘Umdatu al-tahqiq,127).
Menanggapi hukum boleh tidaknya talfiq ini, ulama‘ terbagi menjadi dua kubu: Pertama, kubu yang tidak membolehkan adanya talfiq, kubu ini diwakili oleh syeikh Ibnu Abdul Bari, menurut beliau orang awam tidak boleh bertalfiq, karena hal tersebut hanya akan menghilangkan taklif (pembebanan) hukum yang diperselisihkan (mukhtalaf fih) oleh para ulama‘.

Pendapat pertama ini juga diperkuat oleh Imam al-Ghazali. Beliau melarang praktik talfiq dengan alasan hal tersebut condong pada mengikuti hawa nafsu, sementara syari‘at, menurut beliau datang untuk mengekang liarnya hawa nafsu. Sehingga setiap perkara harus dikembalikan syari‘at bukan kepada hawa nafsu. Beliau menyitir ayat al-Quran yang berbunyi :
“Jika kamu berselisih paham tentang suatu perkara, m a k a kembalikanlah kepada Allah Swt.

Kedua, kubu yang membolehkan praktik talfiq, diantaranya adalah sebagian ulama‘ Malikiyah, mayoritas Ashab Syafi‘i serta Abu Hanifah: mereka membolehkan talfiq dengan alasan bahwa larangan talfiq tersebut tidak ditemukan dalam syara‘, karenanya seorang mukallaf boleh menempuh hukum yang lebih ringan. Selain itu, ada hadits Nabi (qauliyah maupun fi‘liyah) yang menunjukkan bolehnya talfiq. Dalam sebuah hadits yang dituturkan oleh Aisyah, Nabi bersabda:
” Nabi tidak pernah diberi dua pilihan, kecuali beliau memilih yang paling mudah, selama hal tersebut bukan berupa dosa. Jika hal tersebut adalah dosa, maka beliau adalah orang yang paling menjauhi hal tersebut “. (Fathu al-Bari, X, 524)

Dalam hadits lain beliau bersabda :
“Sesungguhnya agama ini (Islam) adalah mudah. Dan tidaklah seorang yang mencoba untuk menyulitkannya, maka ia pasti dikalahkan”. (Fathu al-Bari, I, 93)

DR. Wahbah Zuhaili juga sepakat tentang kebolehan talfiq ini, menurut beliau talfiq tidak masalah ketika ada hajat dan dlarurat, asal tanpa disertai main-main atau dengan sengaja mengambil yang mudah dan gampang saja yang sama sekali tidak mengandung maslahat syar‘iyat. (Ushul al-Fiqh al-Islamiy, II, 1181)

‘Izzuddin Bin Abdi al-Salam menyebutkan bahwa, boleh bagi orang awam mengambil rukhsah beberapa madzhab (talfiq), karena hal tersebut adalah suatu yang disenangi. Dengan alasan bahwa agama Allah itu mudah (dinu al-allahi yusrun) serta firman Allah dalam surat al-Hajj ayat 78:
“Dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam satu agama suatu kesempitan. (Fatawa Syaikh ‘Alaisy, I, 78)

Imam al-Qarafi menambahkan bahwa, praktik talfiq ini bisa dilakukan selama ia tidak menyebabkan batalnya perbuatan tersebut ketika dikonfirmasi terhadap semua pendapat imam madzhab yang diikutinya.
Kalau kita lihat beberapa pendapat di atas, ternyata tidak ada qoul (pendapat) yang membolehkan talfiq secara mutlak. Oleh karena itu, ada beberapa klasifikasi talfiq yang perlu diperhatikan. Pertama, talfiq batal secara esensi, seperti melakukan sesuatu yang menyebabkan penghalalan barang yang haram, seperti menghalalkan khamr, zina dan lainnya. Kedua, talfiq yang dilarang bukan pada esensinya, tetapi karena faktor eksternal.

Dalam kasus kedua ini terbagi menjadi tiga macam. Yaitu: (1) Mengambil pendapat yang mudah-mudah seperti mengambil pendapat setiap mazhab yang termudah bukan karena dharurat atau ‘udzur. Hal ini dilarang agar seseorang tidak melepaskan diri dari pembebanan-pembebanan syar’i. (2). Talfiq tidak boleh berlawanan dengan keputusan hakim. (3) Talfiq tidak boleh mencabut kembali hukum atau keputusan yang telah diikuti atau disepakati ulama’ (Ushul al-Fiqih al-Islami, II, 1176-1177)

Alhasil, demi kemaslahatan, sebenarnya masih ada ruang untuk talfiq. Apalagi ketika berhadapan dengan kondisi dharurat, maka talfiq menjadi satu-satu pilihan yang mesti kita tempuh asal jangan sampai bertentangan dengan spirit syara‘(maqashid al-syari’ah). Yang penting, praktik talfiq bukan sekedar untuk mengambil kemudahan saja, tetapi bertujuan agar keluar dari jeratan ke-mudharat-an.

About these ads

Satu Tanggapan to “Hukum Talfiq…..boleh ngga???”

  1. Begini ya saya ada pertannyaan,dalam rangka memahami Islam tidak hanya tekstual,tetapi harus kontekstual.. namun apabila ada seseorang yang dalam rangka mengkiaskan dalil menggunakan beberapa Ideologi.. apakah itu talfiq..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: